Wednesday, February 10, 2010

An-Najwa

penulis asmaul chusna |

Sayyid Quthb berkata menjelaskan ayat ini (an-Nisa;114):

Larangan melakukan najwa dalam al-Qur'an muncul berkali-kali. Najwa yaitu berkumpulnya suatu kelompok umat jauh dari jama'ah Islam atau dari kepemimpinan umat Islam untuk merancang suatu perkara secara rahasia. Padahal kebijakan tarbiyah islamiyah dan tanzhim Islami yang dilaksanakan pada masa Nabi Muhammad saw dalam menyelesaikan suatu masalah yang meragukan adalah dengan cara: Seorang Muslim datang kepada Nabi saw dengan membawa permasalahanya, jika permasalahan itu berupa urusan pribadi yang tidak ingin disebarluaskan dihadapan orang banyak maka ia menyampaikanya kepada Nabi saw secara tertutup. Jika menyangkut permasalahan orang banyak yang tidak menyangkut urusan pribadi orang tersebut, maka ia menyampaikannya kepada Nabi saw secara terbuka.


Hikmah dari tata cara seperti ini adalah agar tidak terdapat kantong-kantongdalam jama'ah Islam. Jika demikian, maka akan muncul beberapa kelompok yang memisahkan diri dengan konsep, pikiran, aliran, dan masalah mereka, atau suatu kelompok dari Jama'ah itu akan merancang suatu rencana "di malam hari",dan menentang Jama'ah dengan perkara yang telah ditetapkan sebelumnya, lalu mereka bersembunyi dari pantauan jama'ah, walaupun mereka tidak akan mampu bersembunyi dari mata 4wi, padahal 4wi bersama mereka ketika mereka merencanakan suatu perkataan yang tidak diridhai-nya secara rahasia(lihat surat an-Nisa;108).

Ayat 114 srat an-Nisa adalah salah satu ayat dimana 4wi melarang perbuatan najwa atau merencanakan sesuatu sedangkan mereka terpisah dari jama'ah Islam dan pemimpin mereka.

Masjid sejak awal Islam merupakan sebuah pusat komunikasi Jama'ah Muslim , didalamnya mreka berkumpul untuk shalat dan membicarakan masalah-masalah kehidupan. Masyarakat Muslim secara keseluruhan adalsebuah masyarakat yang terbuka. Mereka selalu mengetengahkan berbagai problematika mereka secara terbuka, selagi tidak menyangkut masalah yang berhubungan dengan rahasia-rahasia para panglimanya dalam pertempuran dan semisalnya atau bukan masalah yang menyangkut urusan pribadi seseorang dimana orang yang bersangkutan tidak ingin apabila masalahnya menjadi buah omongan orang.

Oleh karena itu, masyarakat yang terbuka ini merupakan masyarakat yang bersih dan menyejukan. Tidak akan menjauhi masyarakat ini untuk merancang suatu secara rahasia. kecuali orang-orang yang berkonspirasi terhadapnya, atau berkonspirasi terhadap salah satu prinsipnya, yang biasanya berasal dari kalangan munafiq. Oleh sebab itu, masalah najwa (Majelis Rahasia diluar jamaah) dalam alqur'an sering disebutkan bersama dengan kaum munafiq.

Fakta ini tentunya memberikan suatu pelajaran kepada kita, yaitu bahwa masyarakat muslim harus terbebas dari fenomena ini. Hendaknya semua individunya selalu menyampaikan kepada Jama'ahnya atu kepada para pemimpinya apabila terdapat hal-hal penting bagi mereka berupa rencana-rencana, strategi, kecendrungan pemikiran atau problematika.(Tafsir Fizhilalil Qur'an, 5:227)

Demikianlah seorang hamba yang mendapat taufiq bisa keluar dari sempitnya majlis najwa menuju medan syuro yang luas dan keindahan perbaikan ditengah manusia, demi mengharap ridha 4wi. 4wi adalah sumber cahaya langit dan bumi. 4wi akan mengaruniai cahaya yang baru agar mata hati mereka semakin terang dan agar termotivasi untuk bersegera menuju ridha 4wi, amien.

Ref.
Al-Awaiq (Muhammad ahmad ar-Rasyid-Seri Fiqh Dakwah)
Tafsir Fizhilalil Qur'an

Selengkapnya...

Thursday, November 05, 2009

IKHLAS

penulis asmaul chusna |

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus ” (QS. Al Bayyinah:5)


Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dalam Syarahnya menerangkan bahwa syarat sah diterimanya suatu amal perbuatan itu ada dua , yaitu ikhlas dan benar. Bagaimana makna ikhlas dan benar yang dimaksud dalam hal ini??

Ikhlas menurut beliau merupakan suatu perbuatan yang dimaksudkan mencari keridhaan Allah SWT, bukan yang lainnya. Sedangkan menurut Ibnu Rajab, Ibnu Qayyim dan al Ghazali, ikhlas dimaknai sebagai memurnikan tujuan bertaqarrub (mendekat) kepada Allah SWT, dan menjauhkannya dari hal-hal yang mengotori. Arti lainnya adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan serta mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Allah, Sang Khalik. Sedangkan benar yang dimaksud disini adalah kesesuaian amal perbuatan itu dengan sunnah Rosulullah SAW yang shahih dan tidak melakukan amalan yang tidak dicontohkan oleh beliau SAW.

Allah SWT akan memberikan balasan pahala terhadap amal perbuatan berdasarkan pada apa yang diikuti oleh hati dengan rasa ikhlas dan niat yang tulus. Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi sedikit maupun banyak, maka tercemarlah kejernihan amalnya. Padahal manusia, kebanyakan mudah sekali terlena dalam harapan dan syahwat. Hampir tidak ada suatu amal ibadah yang bisa benar-benar bersih dari semuanya itu. Maka disinilah fungsi ikhlas, dimana dengan menghadirkan ikhlas, maka berarti kita berusaha membersihkan hati dari segala kotoran yang akan mengurangi nilai pahalanya sehingga tujuannya akan selalu kembali kepada Allah SWT. Dan sikap ini hanya bisa bisa datang dari seseorang yang mencintai Allah SWT dan menggantungkan seluruh harapannya di akhirat.

Sebagai contoh, kebiasaan makan dan minum kita tidak akan bernilai apa-apa jika dalam kita makan dan minum hanya terlintas pikiran agar kenyang dan hilang dahaga. Akan tetapi makan dan minum yang diiringi dengan niat lurus menguatkan jasad untuk beribadah pada Allah SWT, maka itulah nilai ikhlas ibadah yang sebenarnya yaitu senantiasa membersihkan dan mengarahkan hati kepada Allah SWT apapun amal ibadah yang kita lakukan.

Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Sakhr ra. dia berkata, Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa kalian dan juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian” (HR. Muslim 2564/34)

Memperbaiki hati itu lebih utama untuk didahulukan daripada perbaikan anggota badan, sebab anggota badan hanyalah mengikuti perintah dan larangan hati. Oleh karena itu, jika hati itu baik maka akan baik seluruh tubuh dan jika hati telah rusak maka akan rusak pula seluruh badan. Sungguh, kita akan bertanggung jawab dan akan dihisab berdasarkan niat dan amalnya. Dan karena itu pula, kita benar-benar harus mengarahkan keduanya ke jalan yang baik dan lurus yaitu jalan petunjuk yang datang dari Allah dan jalan kebenaran yang berasal dari Rosulullah SAW dengan menghadirkan rasa cinta pada Allah dan akhirat.

Yang terberat dari ikhlas yang sesungguhnya menurut Salim A. Fillah adalah saat kita menyedari bahwa dia merupakan proses yang tidak kenal henti. Ikhlas dalam amal harus ada sebelum, saat, sesudah hingga kita memulainya amal perbuatan itu lagi. Sungguh berat memang, akan tetapi atas Kemurahan Allah SWT dan Keluasan rahmatNya, kita yang mudah sekali tergelincir ini diberikan kesempatan untuk memperbaiki hati, memperbaiki niat, mengganti motivasi ketika niat untuk bertaqarrub mulai bergeser. Inilah yang disebut Salim sebagai kesejukan bagi seorang mukmin ditengah ketersesatan yaitu ketika telah berangkat beramalpun kita bisa memperbaiki niat amal dan menata kembali keikhlasan.

Last but not least, ikhlas itu sangat sulit tetapi Allah SWT dan Rosulullah SAW telah memberikan kita kesempatan, kesejukan dan contoh mulia bagaimana agar kita tetap menikmati indahnya ikhlas, dan nikmatnya amal yang diterima Allah SWT. Dari sini, saya mengajak diri saya dan anda, para pembaca yang dirahmati Allah. Mari kita senantiasa memperbaiki niat setiap kita beraktifitas, karena kita tidak tahu kapan maut itu akan menjemput kita, dan bagaimana keadaan kita saat dia datang.

“ Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi mereka dari Allah apa-apa yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Az Zumar: 47-48).
Wallahu a’lam

Dedicated for my beloved older brother, M. Edris al Farq
on his 28th birthday
^wish u all the best~barakallahu fiika ya akhi^

Silent Room,
Malang, 3th Nov 09

Maraji’ :
1. Al Qur’anulkariim, Penerbit Syamiil Cipta Media
2. Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin, terjemah Indonesia Jilid I. Syaikh Salim Ied al-Hilaly. Penerbit Pustaka Imam asy-Syaf’i
3. Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salaf. Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, dan Al Ghazali. Penerbit Pustaka Arafah
4. Jalan Cinta Para Pejuang. Salim A. Fillah. Penerbit Pro-U Media

Selengkapnya...

Tuesday, October 27, 2009

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH

penulis asmaul chusna |

Berikut ini adalah kajian yang bulan dzulhijjah yang bisa anda baca dan amalkan. Artikel ini oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin. Selamat membaca^^

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.


Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [Al-Hajj : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan : “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu” “Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [Al-Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain :
“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang dibagiakn secara cuma-cuma, tanpa no, bulan dan tahun]
Courtesy of Almanhaj.or.id
Selengkapnya...

Saturday, October 17, 2009

Kedzaliman diri

penulis asmaul chusna |


Bismillah...

Adakalanya manusia itu menjadi sangat bodoh. Betapa tidak, pikiran dan nuraninya yang senantiasa menyuruh pada kebenaran, bisa dikalahkan oleh yang namanya perasaan. Memang Allah menciptakan manusia lengkap dengan pikiran dan akal. Akan tetapi, pada saat manusia itu terkalahkan oleh perasaannya sendiri dengan mengabaikan kebenaran yang telah datang pada dirinya. Maka jelas, dia telah dzalim pada dirinya sendiri. Dan Allah tidak menyukai orang yang dzalim, an sich pada dirinya sendiri.


Banyak sekali hikmah yang bisa kita dapatkan saat kita menginstropeksi diri kita sendiri. Betapa kegagalan, keterpurukan dan kejadian buruk lain yang pernah kita alami, sebenarnya adalah balasan yang diberikan Allah atas apa yang kita lakukan sendiri. Apa yang kita lakukan pada diri kita sendiri itulah yang mendatangkan taqdir Allah. Setiap taqdir baik maupun taqdir buruk, semuanya adalah refleksi dari sikap kita terhadap diri kita dan Allah. Mengapa begitu?

Allah menyatakan dalam hadits qudsi yang cukup panjang yang diriwayatkan Imam Muslim (2577);

Dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris bin Khaulani, dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra. Dari Nabi SAW, bahwasanya Allah berfirman;
“....Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah amal perbuatan kalian, dan semua itu akan Aku perhitungkan untuk kalian, dan akan Aku berikan balasan yang sempurna kepada kalian atasnya. Oleh karena itu, barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaklah dia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain dari itu, hendaklah dia tidak mencela kecuali dirinya sendiri.”

Semuanya dikarenakan manusia diberikan karunia oleh Allah berupa akal dan pikiran yang membuat manusia bebas berbuat dan memilih perbuatan yag dikehendakinya. Dan dia akan dihisab atas perbuatan yang dikerjakannya dan dicela atas pengabaiannya terhadap hak Allah. Manusia diberikan kebebasan untuk fujuur (durhaka) atau taqwa sesudah kebenaran dari Allah datang padanya. Semuanya terserah kita, karena ketaqwaan maupun kedurhakaan kita tidak mengurangi Kemuliaan dan Kekuasaan Allah. Allah yang Maha Luas Rahmatnya akan tetap menghargai kita sebagai makhluqNya. Hanya saja kedurhakaan, kemaksiatan dan kedzaliman kita pada diri kita sendiri, pada orang lain bahkan pada Allah tidak akan diabaikan begitu saja. Allah hanya menundanya beberapa waktu saja sehingga Allah menghitung amal perbuatan itu dan selanjutnya akan diberikan balasan atasnya.

Lalu, jika Allah telah menentukan janjiNya yang pasti, apakah kita ini masih saja memperturutkan perasaan kita saat pikiran dan akal telah menyuarakan kebenaran Allah?? Apakah kita masih hanya memperturutkan apa yang kita sukai padahal itu adalah hal yang dibenci Allah?? Apakah kita masih saja berbuat dzalim pada Allah dan diri sendiri dengan melupakan hak-hak Allah dan hak-hak jasad -jiwa yang diciptakan Allah ini?? Sungguh merugilah kita yang tidak menyadarinya. Padahal setiap ruas tulang kita memiliki hak untuk diibadahkan pada Allah, setiap lintasan pikiran yang kita pikirkan punya hak untuk diarahkan pada niat ibadah lillah...

Dari Abu Dzarr ra, bahwa Rosulullah SAW bersabda: “ Bagi masing-masing persendian (ruas) dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan shodaqahnya. Setiap tasbih adalah shodaqah, setiap tahmid adalah shodaqah, setiap tahlil adalah shodaqah, setiap takbir adalah shodaqah, menyuruh berbuat baikpun juga shodaqah, dan mencegah kemungkaran shodaqah. Dan semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat dhuha” (HR. Muslim[720])

Ya Allah, Engkaulah Robb-ku, tiada yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku berada di atas janjiMu, semampuku. Aku mohon perindungan dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku Ya Allah... maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa melainkan Engkau.

Allahu a’lam bish showwab

Silent room,
Malang, Oct 14th 2009

Selengkapnya...

Tuesday, September 22, 2009

SAYANGI IBUMU dan TERUSLAH BERSEDEKAH DENGAN IKHLAS

penulis asmaul chusna |


Jangan berani atau menghardik orangtua khususnya IBU dan tetaplah bersedekah dg ikhlas.
Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

” Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.”

Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA

“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, ” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

“Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga” , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ,” tanya beliau.

“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. “

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang….


KEDAHSYATAN SEDEKAH

Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, ‘Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu besi’.

Para malaikat pun kembali bertanya, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu api’.

Bertanya kembali para malaikat, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu air’.

‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?’ tanya para malaikat.

Allah pun menjawab, ‘ Ada , yaitu angin’.

Akhirnya para malaikat bertanya lagi, ‘Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?’.

Allah yang Mahakaya menjawab, ‘ Ada , yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya’ .”

Diambil dari e-mail pribadi kiriman dari kakak tercinta ^-^ [luv u coz Allah bro.., moga kita jadi anak berbakti dan selalu memuliakan ibu kita]
Subhanallah. …
Selengkapnya...

Tuesday, September 08, 2009

Tips I'tikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan

penulis asmaul chusna |


Subhanallah, Ramadhan sudah kita lalui separuhnya. Bagaimana ibadah anda?? Semoga Allah semakin menguatkan kita untuk tetap istiqomah menjaga niat, dan menjaga amal hingga akhir Ramadhan ini, hingga kita jelang kemenangan Ramadhan kita dengan senyum terkembang... Apakah dalam daftar agenda Ramadhan anda tercantum kegiatan i'tikaf?? Jika iya, saya ingin berbagi tips i'tikaf untuk ada. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.. ^.^

Seperti yang kita tahu, i'tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamnya. Supaya kita bisa tenang dan nyaman berikut tips dari saya:
pertama, tentukan dimana anda akan beri'tikaf. Jadi anda bisa memperkirakan waktu perjalanannya dan mengetahui fasilitas apa saja yang disiapkan oleh masjid itu.
kedua, pastikan kembali jadwal kegiatan anda yang lain dan pastikan semua orang yang berhubungan dengan kegiatan anda tersebut. Agar sewaktu anda i'tikaf tidak ada kegiatan membatalkan i'tikaf anda. Sayang banget kan kalo baru saja nyampe di masjid, alat komunikasi anda menyampaikan ada pertemuan yang tidak diinginkan.
ketiga, matikan alat komunikasi anda. Khususkan waktu i'tikaf anda hanya untuk Allah... spesial date....
keempat, bawalah bekal-bekal keperluan yang anda butuhkan seperti peralatan mandi, baju ganti dan selimut tipis jika anda ingin menginap dan khawatir dengan cuaca yang tidak bersabahat, alat sholat dan perlengkapan yang menunjang kegiatan i'tikaf anda yang lain.
kelima, bawalah bekal makanan tambahan. Boleh saja sih numpang makan di masjid karena memang biasanya sudah disiapkan oleh pengurus, akan tetapi maksimalkan amal anda dengan memberi makan saudara anda yang berpuasa. Selain itu juga sebagai cadangan apabila kita kehabisan makanan.
keenam, jangan lupa membawa obat-obatan yang biasa anda gunakan.
ketujuh, ajaklah sahabat atau keluarga anda agar anda juga bisa lebih akrab dan dekat dengan mereka.
kedelapan, selalu meluruskan niat dan senantiasa menjaga kesehatan.

Itu saja yang bisa saya bagi dengan anda. Dan semoga kita senantiasa dirahmati dan dijaga Allah untuk senantiasa istiqomah dalam beramal shalih.. Happy nice i'tikaf...
Selengkapnya...

Saturday, August 22, 2009

Ramadhan PertamaKu

penulis asmaul chusna |


Menjelang maghrib aku merasa tidak tenang... Rencana menelfon umi masih belum terlaksana semenjak pagi. Padahal sebelum tidur sudah kuagendakan untuk menelfon umi. Kulihat jam analog ponselku menunjukkan pukul 17.20, setelah mendapat telfon dari orang jauh:P

Sambil menunggu angkot yang tidak juga nongol, hati semakin gelisah... Kapan nih telfon umi, ramadhan hampir datang. Akhirnya ramadhan datang bersama dengan kumandang adzan maghrip di kota Malang. Yah... maafkan anakmu umi... belum sempat menghubungi. 20 menit perjalanan dari perempatan Dieng Plaza, akhirnya aku sampai di daerah Kerto-kerto [area Kost mahasiswa Brawijaya]. Agak aku percepat langkahku bersama sahabatku, Eni, sambil bertanya dalam hati, "ada wartel yang buka nggak ya?? ni pulsa lagi mepet juga".

Pukul 18.14 lebih sekian detik aku berhasil menemukan wartel, dari segera kupencet tombol pesawat telfonnya. Bismillah, 03*5**13**. Tuuuut...tuuuuut.....

"assalamu'alaikum....", suara umi ditelfon membuat air mata berderai-deraiT.T
"sinten niki..." walah tambah banter nangisku...
" wa'alaikum salam, chusna bu..." jawabku..
" oh... sehat??? nggak muleh tho?? kapan mulihe???" berondong umi... tambah bersalah saja aku...
Pikiranku segera melayang ke rumah. Pasti umi sedang siap-siap untuk tarawih dan tadarus... sibuk menyiapkan sahur untuk adekku...
Hhhh... pasti umi nangis juga deh... maklum dirumah cuman berdua sama adek... pasti deh umi inget abah... pasti deh umi bilang -anak-anakku di malang dan di Yogya makan sahur pake apa ya???-
Wuuah, membayangkannya tambah seru nangisnya :P
Setelah bebrapa menit ngobrol, akhirnya ku tutup dengan permintaan maafku sambil nangis2 hehehe...
and the last word, that never forget... " aku sayang ibu...."
Wuuuaaaaah.... lueeega.... finnaly.... semua tersampaikan... alhamdulillah...

Aku kembali teringat pada memori lama, saat masih belum berani bilang "sayang" dengan umi. Rasanya biasa saja saat datang dan pergi dari rumah. Tidak ada berat saat meninggalkan rumah, tidak ada rasa kangen saat berada jauh dari rumah dan tidak ada rasa bahagia saat datang kembali... Tetapi setelah membiasakan ucapan "sayang" ke umi... semua menjadi tidak sama lagi... Mungkin awalnya akan canggung.. tapi efeknya sangat luar biasa... Sudahkan anda melakukannya pada ibu anda??
Janganlah bangga saat lidah anda dengan mudahnya mengucap kata "sayang" pada orang lain jika pada ibu anda sendiri anda belum melakukannya...

===========

Ramadhan pertamaku tahun ini memang sangat berbeda... rasanya, semangatnya... semuanya...
Bahkan saat adzan isya' dikumandangkan, rasanya hati ini penuh dengan limpahan perasaan tidak karuan... Pengen nangis karena bahagia bertemu ramadhan kembali, pengen nangis karena jauh dari rumah, pengen minta ampun sama Gusti Allah atas dosa-dosa 11 bulan yang lalu, pengen memanjatkan permohonan sama Gusti Allah untuk target-target 11 bulan kedepan... Banyaaaaaaaaaaak yang ingin dilakukan pas Ramadhan ini... Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan pada aku, anda dan semuanya. Amin.... Selengkapnya...

Friday, August 21, 2009

SERIAL PUASA: ADAB SAHUR

penulis asmaul chusna |

Nggak mau kan puasa anda berkurang barakahnya hanya gara-gara kita tidak menjaga adab-adabnya?? Berikut serial puasa yang membahas masalah sahur. Jangan hanya karena alasan ngantuk, anda tidak bersahur. Syaikh Salim bin Ied al Hilaaly, dalam eBook "Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam" menjelaskan adab dan keutamaan makan sahur dengan cukup jelas. Semoga bermanfaat ^.^

Hikmah Makan Sahur

Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana Ia telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Waktu dan hukum puasa bagi umat Islam tak ubahnya dengan apa yang diwajibkan kepada Ahlul Kitab, yakni tidak boleh makan dan minum dan berjima’ setelah tidur. Artinya, jika salah seorang dari mereka tidur, ia tidak boleh makan hingga malam selanjutnya. Ketentuan semacam ini juga berlaku bagi kaum Muslim.[1] Rasulullah Saw telah memerintahkan untuk makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab.

Dari Amr bin ‘Ash ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur.”[2]

Keutamaan Makan Sahur

Di antara keutamaan makan sahur bagi seorang Muslim adalah sebagai berikut:

Pertama, makan sahur adalah keberkahan. Dari Salman ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

“Keberkahan itu ada pada tiga perkara: al-Jama’ah, ats-Tsarid dan makan Sahur.”[3]

Dari Abu Hurairah ra diceritakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada makan sahur dan takaran.”[4]

Dari Abdullah bin al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Saw diriwayatkan, dikisahkan, Aku masuk menemui Nabi Saw ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda:

“Sesungguhnya makan sahur adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan.”[5]

Keberadaan makan sahur sebagai sebuah keberkahan sangatlah jelas. Sebab, dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan puasa, dan memompa semangat untuk menambah puasa. Sebab, dengan makan sahur, puasa menjadi terasa lebih ringan bagi orang yang menjalankannya.

Dengan makan sahur juga, kita telah menyelisihi Ahlul Kitab. Sebab, mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah Saw menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana yang telah disebutkan di dalam dua hadits al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda ra:

“Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur.”[6]

Kedua, Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. Barangkali, keberkahan sahur yang begitu melimpah tersebut disebabkan karena Allah SWT akan mencurahkan ampunanNya kepada orang-orang yang makan sahur, memenuhi mereka dengan rahmatNya, dan malaikat Allah akan memintakan ampunan bagi mereka, berdoa kepada Allah agar mema’afkan mereka supaya mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan dari siksa api neraka oleh Allah di bulan Ramadhan.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala besar yang berasal dari Rabb Yang Maha Pengasih. Adapun makan sahur yang paling utama adalah buah korma. Rasulullah Saw bersabda:

“Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.”[7]

Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk seteguk air; disebabkan begitu melimpahnya keutamaan makan sahur, dan juga karena sabda Rasulullah Saw, “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air.”

Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar. Pasalnya, Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit ra melakukan sahur, dan ketika selesai sahur Nabi Saw bangkit untuk shalat subuh. Sedangkan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat Shubuh kira-kira sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca lima puluh ayat di Kitabullah.

Anas ra meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra:

“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau sholat.” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “kira-kira 50 ayat membaca al-Qur’an.”[8]

Ketahuilah wahai hamba Allah, kita diperbolehkan makan, minum, jima’ selama dalam keadaan ragu, apakah fajar telah terbit atau belum. Di samping itu Allah serta RasulNya telah menerangkan batasan waktu puasa hingga jelas benar, bahwa waktunya telah masuk Shubuh. Oleh karena itu, Allah SWT memaafkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima’, selama belum ada kejelasan; sedangkan orang yang masih ragu belum mendapat kejelasan, sehingga ia boleh makan, minum, dan jima’. Sesunguhnya kejelasan adalah keyakinan yang tidak ada keraguan lagi.

Hukum Makan Sahur

Rasulullah Saw telah memerintahkan kaum Muslim untuk makan sahur. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya beliau bersabda:

“Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu.”[9]

Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda:

“Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah.”[10]

Beliau juga menjelaskan betapa tingginya nilai sahur bagi ummatnya; beliau bersabda:

“Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur.”

Di dalam hadits lain, Nabi Saw melarang meninggalkannya, beliau bersabda:

“Sahur adalah makanan yang barakah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan MalaikatNya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur.”[11]

Rasulullah Saw bersabda:

“Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air.”[12]
====================================================================
[1] Lihat sebagai tambahan tafsir-tafsir berikut: Zâdul Masir, jld. 1, hal. 184 oleh Ibn al-Jauzi, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhim, jld. 1, hal. 213-214 oleh Ibn Katsir, ad-Durul Mantsur, jld. 1, hal. 120-121 karya Imam as-Suyuthi.

[2] HR Muslim 1096.

[3] HR. ath-Thabrani dalam al-Kabîr 5127, Abu Nu’aim dalam Dzikr al-Akhbar ash-Shbahan 1/57 dari Salman al-Farisi al-Haitsami berkata al-Majma 3/151 dalam sanadnya ada Abu Abdullah al-Bashiri, adz-Dzahabi berkata: “Tidak dikenal, perawi lainnya tsiqat.” Hadits ini mempunyai syahid dalam riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Khatib dalam Munadih Auhumul Sam’i Watafriq 1/203, sanadnya hasan.

[4] HR. asy-Syirazy (al-Alqzb) sebagaimana dalam Jami’ ash-Shagir 1715 dan al-Khatib dalam al-Muwaddih, jld. 1, hal. 263 dari Abu Hurairah dengan sanad yang lalu. Hadits ini hasan sebagai syawahid dan didukung oleh riwayat sebelumnya. Al-Manawi memutihkannya dalam Fawaid al-Qadir, jld. 2, hal. 223.

[5] HR. an-Nasâ’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya shahih.

[6] Adapun hadits al-Irbath diriwayatkan oleh Ahmad 4/126 dan Abû Dâwud 2/303; an-Nasâ’i 4/145 dari jalan Yunus bin Saif dari al-Harits bin Ziyad dari Abi Rahm dari al-Irbath. Al-Harits majhul (tidak diketahui). Sedangkan hadits Abu Darda diriwayatkan oleh Ibn Hibban 223, Mawarid dari jalan Amr bin al-Harits dari Abdullah bin Salam dari Risydin bin Sa’ad. Risydin dhaif. Hadits ini ada syahidnya dari hadits al-Migdam bin Ma’dikarib. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/133. an-Nasâ’i 4/146 sanadnya shahih.

[7] HR. Abû Dâwud 2/303; Ibn Hibban 223; al-Baihaqi 4/237 dari jalan Muhammad bin Musa dari Said al-Maqbari dari Abu Hurairah. Dan sanadnya shahih.

[8] HR. Bukhâri 4/118 dan Muslim 1097. Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni berkata dalam Fath al-Bârî, jld. 4, hal. 238: “Di antara kebiasaan Arab mengukur waktu dengan amalan mereka, (misal): kira-kira selama memeras kambing. Fawaqa naqah (waktu antara dua perasan), selama menyembelih onta. Sehingga Zaid pun memakai ukuran lamanya baca mushaf sebagai isyarat dari beliau ra bahwa waktu itu adalah waktu ibadah dan amalan mereka membaca dan mentadhabur al-Qur’an.” Sekian dengan sedikit perubahan.

[9] HR. Ibn Abi Syaibah 3/8; Ahmad 3/367; Abu Ya’la 3/438; al-Bazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir.

[10] HR. Bukhâri 4/120 dan Muslim 1095 dari Anas.

[11] HR. Ibn Abi Syaibah 2/8 dan Ahmad 3/12, 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said al-Khudri. Sebagaimana menguatan yang lain.

[12] HR. Abu Ya’la 3340 dari Anas, ada kelemahan, didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibn Hibban no.884 padanya ada ‘an-anah Qatadah. Hadits hasan.

Selengkapnya...

Nggak mau kan puasa anda berkurang barakahnya hanya gara-gara kita tidak menjaga adab-adabnya?? Berikut serial puasa yang membahas masalah berbuka puasa. Syaikh Salim bin Ied al Hilaaly, dalam eBook "Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam" menjelaskan adab dalam berbuka puasa dengan cukup jelas. Semoga bermanfaat ^.^


Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187).

Rasulullah Saw menafsirkan ayat ini dengan arti, “datangnya malam dan perginya siang, serta tersembunyinya bundaran matahari”. Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang di-shahih-kan oleh al-Hâfidz Ibn Hajar[1] dan al-Haitsami[2] dari Amr bin Maimun al-Audi:

“Para sahabat Muhammad Saw adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur.”

a. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kita supaya menyegerakan berbuka puasa, ketika matahari telah terbenam.

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.”[3]

Di dalam riwayat lain yang dituturkan dari Sahl bin Sa’ad ra, dinyatakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Ummatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).”[4]

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.”[5]

b. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib

Rasulullah Saw berbuka sebelum sholat Maghrib[6] karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. Dari Abu Darda’ ra:

“Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat.”[7]

c. Berbuka dengan Korma dan Air

Pada dasarnya, memberi asupan makanan manis pada tubuh, selepas berpuasa penuh, akan lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan. Bahkan makanan manis, misalnya korma, akan menguatkan tubuh dan mengembalikan kesegaran pada tubuh kita. Adapun air, sesungguhnya, ketika sedang menjalankan ibadah puasa, banyak sekali cairan tubuh yang lenyap (dehidrasi). Oleh karena itu, air sangat diperlukan untuk menormalisasi cairan tubuh; sehingga tubuh kita tidak terkena dehidrasi.

Ketahuilah wahai hamba yang taat, sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan —demikian pula air. Lebih dari itu, ia akan memberikan pengaruh yang baik dan mensucikan hati kita. Hal ini tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang mengikuti sunnah Rasulullah. Dari Anas bin Malik ra:

“Adalah Rasulullah Saw berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air.”[8]

d. Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka

Doa yang paling afdhal adalah doa ma’tsur dari Rasulullah Saw. Nabi Saw jika berbuka mengucapkan:

“Dzahaba ad-dhâma’u wabtalati al-‘urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah (Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah).”[9]

Ketahuilah, doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, berdoalah kepadaNya dengan doa-doa yang baik, mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat. Dari Abu Hurairah ra dituturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Tiga doa yang dikabulkan: doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terdhalimi dan doanya musafir.”[10]

Doa orang yang sedang berpuasa pasti tidak akan ditolak, alias dikabulkan oleh Allah SWT. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra; bahwasanya Nabi Saw bersabda:

“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan doanya orang yang didhalimi.”[11]

Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, dituturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak.”[12]

e. Memberi Makan Orang yang Puasa

Siapa saja yang memberi makan kepada orang yang berpuasa niscaya akan mendapatkan pahala besar dan kebaikan yang banyak. Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”[13]

Orang yang sedang menjalankan puasa wajib memenuhi undangan (makan) saudaranya, dan orang yang diundang disunnahkan mendoakan pengundangnya setelah selesai makan dengan doa-doa dari Nabi Saw:

“ ‘Aftara ‘indakumus-sâ’imûna, wa ‘akala ta’âmakumul-‘abrâru, wa sallat ‘alaikumul-malâ’ikatu (Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat [mendoakan kebaikan] atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian).”[14]

“Allâhumma ‘atim man ‘at’amanî wasqi man saqânî (Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan berilah minum orang yang memberiku minum).”[15]
===================================================================
[1] Fath al-Bârî, jld. 4, hal. 199.

[2] Majma’ az-Zawaid, jld. 3, hal. 154

[3] HR. Bukhâri 4/173 dan Muslim 1093.

[4] HR. Ibn Hibban 891 dengan sanad shahih.

[5] HR. Abû Dâwud 2/305 dan Ibn Hibban 223, sanadnya hasan.

[6] HR. Ahmad 3/164 dan Abû Dâwud 2356, dari Anas dengan sanad hasan.

[7] HR. ath-Thabrani dalam al-Kabîr sebagaimana dalam al-Majma 2/105 dia berkata: “…marfu’ dan mauquf shahih adapaun yang marfu’ ada perawi yang tidak aku ketahui biografinya.” Syaikh Salim bin Id al-Hilali, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid menyatakan mauquf —sebagaimana telah jelas— mempunyai hukum marfu’ (lihat Sifat ash-Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fî Ramadhan).

[8] HR. Ahmad 3/163; Abû Dâwud 2/306; Ibn Khuzaimah 3/277-278; at-Tirmidzi 93/70 dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih.

[9] HR. Abû Dâwud 92/306, no. 2357; al-Baihaqi 4/239; al-Hâkim 1/422; Ibn Sunni 128; an-Nasâ’i 1/66 dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal. 296; ad-Daruquthni 3/1401, no. 2247; dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah jld. 6, hal. 265. Semuanya diriwayatkan dari jalur Ali bin Hasan. Menurut al-Hâkim, haditsnya shahih dengan syarat Bukhâri dan Muslim, dan ad-Dzahabi menyepakatinya. Sedangkan ad-Daruquthni 2/185 berkata: “sanadnya hasan”. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni dalam kitab Irwâ al-Ghalîl, jld. 4, hal. 39, no. 920.

[10] HR. Uqaili dalam ad-Dhu’afa’ 1/72, Abu Muslim al-Kajji dalam Juz-nya, dan dari jalan Ibn Masi dalam Juzul Anshari sanadnya hasan kalau tidak ada ‘an-‘annah Yahya bin Abi Katsir, hadits ini punya syahid yaitu hadits selanjutnya.

[11] HR. at-Tirmidzi 2528; Ibn Mâjah 1752; Ibn Hibban 2407 ada jahalah Abu Mudillah.

[12] HR. Ibn Mâjah 1/557; al-Hâkim 1/422; Ibn Sunni 128; ath-Thayalisi 299 dari dua jalan al-Bushiri berkata: 2/81 ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat.

[13] HR. Ahmad 4/144, 115, 116, 5/192; at-Tirmidzi 804; Ibn Mâjah 1746; Ibn Hibban 895, di-shahih-kan oleh Imam at-Tirmidzi.

[14] HR. Abi Syaibah 3/100; Ahmad 3/118; an-Nasâ’i dalam Amalul Yaum wal Lailah, hal. 268; Ibn Sunni 129; Abdur Razzaq 4/311 dari berbagai jalan darinya, sandnya shahih.

[15] HR. Muslim 2055 dari Miqdad.

Selengkapnya...

Thursday, August 20, 2009

Strawberry Topping ice cream with wafer

penulis asmaul chusna |

Ingin berbuka dengan yang segar dan istimewa? Hmm...strawberry yang disajikan dengan krim keju ini bakal jadi pelepas dahaga yang spesial. Apalagi dipadu dengan biskuit renyah plus es krim vanili yang wangi. Nikmati perlahan sehingga lelehan es krim menyatu dengan strawberry, yummy!

Bahan:
2 sdm gula pasir
1 sdm air jeruk lemon
150 g strawbery segar, cuci, bersihkan, potong-potong
4 keping biskuit atau wafer, memarkan
4 skop es krim vanili

Krim Keju, kocok rata:
200 ml whipped cream
100 g cream cheese

Hiasan:
Wafer/biskuit

Cara membuat:

* Panaskan gula dan air jeruk lemon hingga leleh.
* Masukkan strawberry, aduk rata. Angkat dan dinginkan.
* Siapkan 4 gelas saji, taruh biskuit memar di dalam tiap gelas.
* Beri Krim keju, taruh strawberry dan biskuit, kerjakan selapis lagi.
* Taruh 1 skop es krim vanili di atasnya.
* Beri hiasan, sajikan segera.

Selengkapnya...

Wednesday, August 19, 2009

SERIAL PUASA: 33 Ketaatan dan Amalan Ibadah Ramadhan

penulis asmaul chusna |


Marhaban Ya Ramadhan... Marhaban Syahru Shiam.... Sudahkah anda merencanakan Ramadhan anda?? Segera rencanakan Ramadhan anda, jadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik anda. Raih keistimewaannya dengan berlomba-lomba beramal shalih. Berikut beberapa amalan Ramadhan yang bisa anda lakukan untuk mengisi Ansyithoh Ramadhan 1430 H


Ustadz Abdullah al Hadramy menyampaikan 33 amalan ketaatan dan amalan Ibadah Ramadhan yang bisa anda lakukan.
  1. Senantiasa berniat baik sejak dari bangun tidur hingga bangun tidur lagi.
  2. Menjaga sholat 5 waktu di masjid.
  3. Berdzikir setelah sholat shubuh dan setelah sholat ashar dengan dzikir yang disunnahkan.
  4. Senantiasa mengisi waktu dengan tilawah Al Qur'an.
  5. Sholat tarawih berjama'ah di masjid.
  6. Menyibukkan diri dengan berbagai macam dzikir dan memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad SAW.
  7. Menjaga sholat-sholat sunnah, seperti Rawatib, witir, tahajjud, dhuha, dll.
  8. Berusaha merubah kebiasaan diri dengan niat ibadah, seperti tidur, makan, bersih-besih dan aktifitas harian lain yang awalnya dianggap biasa menjadi kebiasaan yang diniatkan ibadah.
  9. Senantiasa memperbanyak dzikir dengan memperbanyak doa setiap memulai dan mengakhiri aktifitas sehari-hari.
  10. Memanfaatkan kesempatan baik yang ada untuk berbuat baik kepada orang lain maupun diri sendiri.
  11. Memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa.
  12. Senantiasa bermuhasabah/instropeksi diri.
  13. Berupaya untuk bergau dengan orang-orang sholih.
  14. Berusaha membantu dan bermanfaat untuk orang lain.
  15. Mengoptimalkan beberapa ibadah dalam satu waktu. Misalnya hendak sholat di masjid, maka dalam perjalanan niatkan juga berjalan untuk ibadah, menyingkirkan halangan dijalan untuk ibadah dst.
  16. Menginginkan kebaikan untuk orang lain dengan saling nasehat menasehati, saling mengingatkan, berdakwah.
  17. Memperbanyak puasa di waktu-waktu yang mustajab, karena doa orang yang berpuasa adalah salah satu doa yang dikabulkan Allah.
  18. Berniat untukmendapatkan ridho Allah saat melakukan ibadah. Senantiasa berprasangka bahwa Allah telah memberikan kita kebaikan saat kita beribadah.
  19. Senantiasa menjaga wudhu.
  20. Menjaga lisan dari hal-hal yang sia-sia.
  21. Membaca do'a saat berbuka puasa dengan do'a yang diajarkan oleh Rosulullah.
  22. Menyegerakan berbuka puasa.
  23. Berusaha berbuka puasa sesuai dengan tuntunan Rosulullah.
  24. Bersahur dan mengakhirkan sahur.
  25. Berusaha memberi makan kepada orang lapar dengan niat hadiah dan shodaqoh.
  26. Tidak menyia-nyiakan 4 waktu istimewa, yaitu sebelum shubuh hingga shubuh, semenjak shubuh hingga terbit matahari, setelah ashar- matahari terbenam, dan antara waktu maghrib hingga isya'.
  27. Memperbanyak shodaqoh.
  28. Berusaha is'tikaf di masjid dan menghadiri majils-majlis ilmunya.
  29. Banyak membaca kitab-kitab yang melembutkan hati, menyucikan jiwa dan tuntunan amal sholih.
  30. Mendengarkan kajian-kajian tentang amalan yang melembutkan hati, menyucikan jiwa dan tuntunan amal sholih.
  31. Memaksimalkan ibadah di waktu adzan dan iqomah.
  32. Senantiasa mengingat kampung akhirat, kematian dan siksa Allah.
  33. Bersyukur pada Allah karena telah dipertemukan dengan Ramadhan, bersyukur saat berbuka puasa, dan bersyukur saat menyelesaikan ibadhan bulan Ramadhan.
Mari kita sempurnakan puasa Ramadhan kita dengan ketaqwaan dan penyucian diri. Semoga puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus, tetapi puasa kita dicatat sebagai amal istimewa yang hanya Allah saja yang mengetahui pahalanya. Amin...^.^

Selengkapnya...

Wednesday, July 29, 2009

AMALAN SYA'BAN

penulis asmaul chusna |

Sya'ban telah datang, semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk menjelang bulan penuh berkah, Ramadhan dengan kesempurnaan iman...

Perkara-Perkara Yang Disyari’atkan
  1. Siapa yang memasuki bulan Sya’ban sementara dia punya qadha puasa Ramadhan, wajib baginya untuk segera menggantinya jika dia mampu, tidak boleh baginya untuk menundanya hingga setelah Ramadhan berikutnya jika tidak ada halangan. Siapa yang tidak mengganti qadha puasanya hingga berakhir bulan Sya’ban maka wajib baginya bertaubat atas kelalaiannya dan dia tetap diwajibkan mengganti puasanya tersebut ditambah membayar kafarat setiap hari yang ditinggalkan dengan memberikan kepada orang miskin satu mud beras (atau makanan pokok lainnya).
  2. Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” Hikmah diperintahkannya untuk memperbanyak shaum pada bulan Sya’ban –wallahu a’lam- adalah sebagai pembukaan bagi bulan Ramadhan yang diwajibkan shaum padanya, agar terlatih untuk melakukan shaum pada bulan tersebut.
  3. Tidak boleh menyambung shaum pada bulan Sya’ban hingga bulan Ramdhan. Sehari atau dua hari terakhir pada bulan Sya’ban harus dihentikan, kecuali jika pada hari itu berbarengan dengan hari biasa dia melakukan shaum padanya, seperti hari Senin atau Kamis, maka dia boleh melakukannya. Terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: “Jangan kalian dahulukan Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali (pada hari) yang dia (biasa) shaum, maka shaumlah.” Para ulama menyebutkan hikmahnya dalam masalah ini yaitu: “Agar puasa bulan Ramadhan tidak ditambah dengan puasa selainnya sebagaimana untuk tujuan yang sama dilarang shaum pada hari raya (hari ‘Ied). Begitu juga – hikmah yang lainnya – sebagaimana diketahui bahwa antara perbuatan sunnah (nafl) dan perbuatan wajib (fardhu) hendaknya ada pemisah (jeda) waktu pelaksanaannya, sebagaimana antara shalat nafilah (sunnah) dan shalat fardhu.”
Perkara-Perkara Yang Tidak Disyari’atkan
  1. Mengkhususkan hari dan malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dengan melakukan shaum dan shalat, semua perbuatan tersebut tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga dari para sahabatnya. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan. Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika datang malam Nisfu Sya’ban maka beribadahlah pada malam harinya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada hari itu saat matahari terbenam di langit dunia seraya berfirman: “Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, siapa yang minta rizki akan Aku beri rizki, siapa yang sakit akan Aku sembuhkan.” Hadits ini dilemahkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Adapun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka berkatalah Al-hafidz Ibn Rajab Rahimahullah: “Mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat sejumlah hadits yang diperselisihkan kedudukannya, sebagian besar ulama melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban menyatakan shahih sebagiannya dan menempatkannya dalam kitab Shahihnya.” (Latha’iful Ma’arif: 143). Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh ulama hadits sebagai orang yang menggampangkan dalam men-shahihkan hadits.
  2. Di sebagian tafsir disebutkan bahwa: Malam mulia yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “inna anzalnahu fi lailatil qadr” adalah malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini keliru dan menyimpang dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri, dan para ulama telah membantahnya. Al-Qurthubi seraya mengutip Abu Bakar bin Arabi berkata dalam tafsirnya: “Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa malam tersebut (maksudnya Lailatul qadar) terjadi pada malam Nisfu Sya’ban, itu adalah pendapat yang keliru, karena Allah Ta’ala tatkala berfirman dalam kitab-Nya (syahru romadhonalladzi unzila fihilqur’an) menjelaskan bahwa waktu turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan dan kemudian menetapkan waktu malamnya dalam ayat ini: (fi lailati mubarokah) maka siapa yang menyangka bahwa hal tersebut terjadi pada waktu selainnya maka itu merupakan dusta yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala.”
download juga
Amalan Sya'ban dalam Pandangan Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz
Selengkapnya...

Saturday, July 18, 2009

UYAH (GARAM) BLENG adalah BORAKS !!!???

penulis asmaul chusna |


Tahukah Anda bahwa bakso ataupun kerupuk yang sangat digemari anak-anak banyak yang mengandung bahan tambahan berbahaya, seperti boraks dan formalin. Sayangnya, seringkali orang tua tidak tahu bahwa kedua bahan ini sebetulnya dilarang digunakan pada makanan.

Bleng (dari bahasa Jawa) adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat.

Bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks, sementara asam borat murni buatan industri farmasi lebih dikenal dengan nama boraks.[1] Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoak.

Dalam bentuk tidak murni, sebenarnya boraks sudah diproduksi sejak tahun 1700 di Indonesia, dalam bentuk air bleng. Bleng biasanya dihasilkan dari ladang garam atau kawah lumpur (seperti di Bledug Kuwu, Jawa Tengah).

Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan, tetapi ironisnya penggunaan boraks sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di Indonesia. Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian.

Boraks sebetulnya merupakan mineral boron, sejenis senyawa kimia yang kompleks. Senyawa ini bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan
rupa yang bagus, misalnya bakso dan ketupat yang jika digigit akan terasa lebih kenyal, atau kerupuk yang bila digigit terasa lebih renyah.

Boraks yang biasa dijual di toko kimia dan toko kue berbetuk kristal putih seperti gula pasir impor atau penyedap rasa. Di Jawa Barat, larutan boraks dikenal dengan sebutan *bleng* . Hanya saja orang mendapatkannya dari sejenis tanah liat yang mengandung mineral boron yang kemudian disaring.

Dan karena sudah dianggap sebagai salah satu bumbu makanan maka masyarakat awam jadi tidak mengertahui bahayanya. Apalagi jika mereka alasannya terpaksa untuk mendapatkan untung lebih. Maka mulai dari sekarang kita sebagai konsumen harus kritis dan tegas dalam memilih bahan makanan, maupun membeli makanan dan minuman. Wallahu a'lam, moga bermanfaat.

Selengkapnya...

Thursday, July 16, 2009

Bulan Tertusuk Lalang

penulis asmaul chusna |



bulan rebah
angin lelah di atas kandang

cicit-cicit kelelawar
menghimbau di ubun bukit
di mana kelak kujemput anak cucuku
menuntun sapi berpasang-pasangan

angin termangu di pohon asam
bulan tertusuk lalang

tapi malam yang penuh belas kasihan
menerima semesta bayang-bayang
dengan mesra menidurkannya
dalam ranjang-ranjang nyanyian

D. Zawawi Imron, 1978
Selengkapnya...

Wednesday, July 15, 2009

Pernahkah Anda Membaca Terjemah Al Qur’an?

penulis asmaul chusna |

Keutamaan membaca Al Qur’an tidak dapat diragukan lagi. Sebagai seorang muslim, kita harus bisa membaca Al Qur’an. Tapi bagaimana dengan yang tidak bisa dengan lancar membacanya? Ya, belajarlah…. Belum terlambat kok mempelajarinya. Sekarang banyak sekali metode yang ditawarkan untuk mempermudah kita lancar membaca Al Qur’an. Nah, jika anda seorang yang lancar mengaji, sudah berapa kali anda mengkhatamkan terjemah Al Qur’an yang berbahasa Indonesia??


Teringat kurang lebih 5 tahun yang lalu, dalam sebuah diklat satu organisasi pergerakan mahasiswa Islam, seorang ustadz yang menjadi pembicara sambil bercanda bertanya pada semua peserta diklat.

“ Siapa yang saat ini membawa Al qur’an terjemahan?” tanya beliau, dan pertanyaan ini dijawab dengan acungan tangan beberapa peserta.

Beliau bertanya lagi, “ bagus, jika kalian mengikuti kajian yang membahas ayat Al Qur’an bawalah Qur’an terjemah. Siapa yang sudah mengkhatamkannya, minimal satu kali saja…???”. Tak ada satupun peserta yang saya lihat mengacungkan tangannya. Beberapa peserta saling berpandangan dan menundukkan pandangan [agak hiperbolis neh^-^].

Sebenarnya saya juga malu, karena saya yang panitia diklat ternyata juga belum pernah mengkhatamkannya.

Sambil terkekeh, sang ustadz berkomentar, “ bagaimana mau berhujjah pada musuh Allah jika nggak tahu makna ayat-ayat kitab sucinya? Bagaimana mau berdakwah jika nggak ngerti maksud ayat-ayat Allah dalam kitabNya, atau kalian udah pada bisa bahasa arab ya jadi nggak pernah mengkhatamkannya?” jujur, kami semakin tertunduk malu dan berpikir…” iya..ya.. kok gak pernah kepikiran mengkhatamkannya?”

Bagi Seorang Muslim, Al Quran tidak hanya sebuah kitab yang disucikan, dimana untuk memegangnya memerlukan kesucian lahir. Al Qur’an bagi seorang muslim adalah pedoman hidup, surat cinta terbaik Allah yang disampaikan pada manusia lewat wahyu kepada Nabi Tercinta Muhammad SAW. Mendengarkan lantunan ayatnya adalah aktifitas yang dijanjikan pahala, membacanya adalah aktifitas yang sangat dimuliakan. Memahaminya adalah aktifitas yang utama dan mengamalkannya adalah aktifitas yang diwajibkan. Tapi Al Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dan kita yang orang Indonesia ini harus belajar ekstra keras jika ingin paham bener dengan isi Kitabullah. So, jalan pintasnya memang harus membaca terjemahnya. Memang tidak ada hadits yang mewajibkan kita untuk membaca terjemah Al Qur’an, tapi kondisi kita saat ini jelas membutuhkan terjemah Al Qur’an.

Dengan membaca terjemah Al Qur’an, kita bisa memahami apa isinya, lebih mudah dalam mengamalkannya dan bukankah diwajibkan bagi kita membaca Al Qur’an sambil memahami maknanya? Ato jangan-jangan hingga umur kita yang segini, ayat-ayat terindah dari Allah itu hanya sampai di bibir saja?? Betapa meruginya kita….Wallahu a’lam
Selengkapnya...

Thursday, July 09, 2009

Akhwat Gaul*, Antara Kebebasan dan Keterbukaan

penulis asmaul chusna |

Bagaimana cara akhwat berinteraksi tanpa menimbulkan masalah? baca ini

Pengalaman seorang akhwat ketika masih SMA, waktu itu ada pertemuan antara pihak sekolah dengan pengurus mushollah. Pihak sekolah ingin bertemu dengan semua pengurus, laki-laki maupun wanita. Maka itulah kali pertama para akhwat menyebrangi hijab di Mushollah, yang membatasi ruang laki-laki dengan wanita. Berada dalam satu ruangan, dengan posisi berhadap-hadapan walau berjarak cukup jauh, itu situasi yang langka. Karuan saja rasa kikuk menyerbu saat itu. Para akhwt duduku kaku tertunduk, kalaupun bersuara hanya berbisik. Dan ketika pertemuan berakhir, rasanya baru bisa bernapas lega.

Pengalaman lain, ketika seorang akhwat sedang berjalan bersama akhwat yang lain, kebetulan berpapasan dengan dua orang ikhwan kakak kelas. Mungkin ada keperluan dengan memberi salam. Salam itu dijawab akhwatnya tapi sejurus kemudian yang terjadi adalah saling dorong, siapa yang mau bicara dengan ikhwan itu. Tak ada yang mengalah. Alhasil, akhwat berdua itu malah bergegas pergi sambil mencari-cari akhwat yang seangkatan dengan ikhwan tadi. Terlau…?!Tapi zaman sudah berubah, jangankan berada dalam satu ruangan dengan posisi berhadap-hadapan, makan bersama di satu meja pun, OK-OK saja. atau berada dalam satu mobil dan bercanda ria sepanjang perjalanan, itu sudah biasa. Bahkan, dalam forum yang seharusnya formal seperti rapat sekalipun, atmosfir saling ‘mencela’ dan bergurau antara ikhwan dan akhwat tidak sulit ditemui.Sempat terpikir, mungkin perubahan yang terjadi semata-mata bentuk penyesuaian dakwah yang semakin terbuka. Namun jika sekian fenomena menyuarak: ikhwan dan akhwat berlama-lama ngobrol di telepon (padahal yang membayar tagihan orang tua), ada yang memasang foto sesama aktifis kampus pujaannya di meja belajar, ikhwan dan akhwat sudah berani ‘jalan bareng’, padahal mereka tak tahu apa-apa tentang taqdirullah. Akhwat yang mengalami depresi berat karena ‘ditinggal’ menikah oleh seorang ikhwan, bahkan ikhwan dan akhwat berhubungan terlalu jauh sampai berzina… itu semua bukan kebetulan kan?!

Ilustrasi pertama dan kedua, sebetulnya sama-sama tak layak ditiru. Sikap yang terlalu kaku justru menghambat komunikasi. Namun gaya komunikasi yang terlalu cair tentu saja beresiko membuka celah kemaksiatan. Lalu tidakkah mungkin bahwa ternyata kedua ‘kekeliruan’ tadi seharusnya punya satu pokok masalah, yaitu pemahaman?

Terkadang kita terjebak dengan group value. Kita mengikuti suatu nilai, semata-mata karena nilai itulah yang dianggap berharga dalam kelompok. Boleh jadi karena menganut group value itulah, sehingga dulu ada budaya ikhwan-akhwat bicara dengan posisi saling membelakangi. Sampai-sampai ada seorang ikhwan yang terus menerus bicara, padahal lawan bicaranya sudah pergi entah kemana.
Dan kini, mungkin karena group value juga sehingga ada tren akhwat pulang malam. Awalnya karena kepentingan mendesak, tapi lama-lama muncul pameo: akhwat yang tidak pulang malam, jam terbangnya diragukan?! sungguh menyedihkan ketika ada seorang akhwat berujar, “Dulu di SMA saya jarang sekali bergurai dengan ikhwan, tapi setelah di kampus bertemu banyak ikhwan yang sering mengajak bergurau, saya jadi terbiasa….” Lho?!

Harus kita ingat bahwa tarbiyah bukan proses labelisasi. Tarbiyah tak bertujuan membuat kita menjadi produk-produk homogen yang monoton, jumud ataupun imma’ah (ikut-ikutan) . Melainkan diharapkan menjadi orang yang memiliki standar yang jelas dalam setiap sikap.

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 177, Allah mencela orang-orang musyrik yang menyandarkan nilai-nilai kebajikan (Al-Birr) pada persangkaan jahiliyah mereka. Sedangkan pada surat al Israa’ ayat 36, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu jika tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Bicara tentang pergaulan aktifis islam, jelas aktifis muslimah memainkan peran penting di dalamnya. Melongok kiprah shahabiyah dalam berinteraksi dengan masyarakat, meraka bukan sosok steril yang tidak melakukan interaksi dengan kaum laki-laki.

Di antara mereka ada yang menyampaikan tuntutannya dengan Rasulullah, menjenguk muslim yang sakit, turut serta dalam perjamuan dan berbagai pertemuan, ikut berdinamika dalam berbagai peperangan, menyampaikan kritik secara langsung dan terbuka kepada khilafah, bahkan istri-istri Rasulullah menjadi tempat bertanya para shahabat setelah Rasulullah saw wafat.

Namun satu hal yang harus dicatat, bahwa para shohabiyah dan generasi muslimah terdahulu melakoni segala hak kebabasan mereka dengan pemahaman, penuh kehati-hatian, dan kontrol diri yang kuat.

Misalnya saja pada kisah dua orang puteri Nabi Syu’aib as. Mereka tidak menutup mata dari tugas memberi minum ternak, dalam rangka berbakti kpd orang tua. Mereka juga sadar, bahwa tugas itu harus mereka jalani dengan resiko harus berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahram. Maka dengan sabar mereka hadapi resiko itu dengan strategi menunggu giliran memberi minum sehingga mereka tak perlu bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dikisahkan seorang muslimah datang dan menyerahkan dirinya (agar dinikahi) kepada Rasulullah saw. Ia paham bahwa ia memiliki kebebasan menawarkan dirinya kepada muslim yang sholih.

Namun ketika ia melihat Rasulullah saw tidak memutuskan apa-apa mengenai dirinya, ia pun duduk dan bahkan membiarkan Rasulullah saw menikahkannya dengan laki-laki lain. Nyata sekali bahwa ia menyerahkan diri kepada Rasulullah saw semata-mata dalam rangka baktinya kepada beliau, bukan karena hawa nafsu. Betapa indah cara mereka membingkai dirinya dengan pemahaman.

Ketika seorang muslimah memahami kebebasannya, pada saat yang sama ia juga harus memahami keterbatasannya. Ia haru memahami bahwa dirinya mempunyai potensi fitnah yang besar. Kalau saja potensi itu sesuatu yang bisa diabaikan, tentunya Rasulullah tidak sampai bersabda, “Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah bagi kaum lelaki lebih berbahaya daripada perempuan” (Muttafaqun alaihi)

Seorang muslimah, terutama dalam usia belia, harus memahami bahwa pertemuannya dengan seorang laki-laki memiliki kemungkinan dimanipulasi oleh setan yang terkutuk. Dalam satu riwayat Ath-Thabrani dan Ali dikatakan Rasulullah saw bersabda “Aku melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sama sama masih muda belia. Aku khawatir keduanya akan dimasuki oleh setan”

Terkadang aktifis muslimah begitu cepat tsiqoh dan merasa save ketika berinteraksi dalam ruang lingkup organisasi Islam. Ia berpikir “Toh senior dan teman-teman saya adalah orang yang paham” Akibatnya ia tidak membangun imunitas yang cukup kokoh untuk melindunginya dari kemungkinan berzina. Padahal, setiap manusia memiliki kecenderungan berzina.

Dari Ibnu Abbas dikatakan: “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mirip dengan perbuatan dosa kecil dibandingkan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah mengenai Nabi saw, yaitu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menentukan manusia cenderung berzina. Hal itu sama sekali tidak bisa dihindari dan pasti terjadi. Zina mata adalah memandang, zina lidah bertutur, zina nafsu adalah berharap-harap dan berkeinginan mendapatkan sesuatu, sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan hal tersebut.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Abdul Halim Abu Syuqqah dalam kitab Tahrirul Mar’ah fii ‘Ashrir Risalah mengemukakan bahwa Islam telah mengatur peran wanita dalam kehidupan sosial dengan etika yang sangat sempurna. Etika tersebut memiliki karakter sebagai berikut:

Pertama, etika tersebut tidak menghambat proses keseriusan hidup serta tetap mempertahankan akhlak dan harga diri manusia.

Kedua, etika tersebut menumbuhkembangkan kesejahteraan dan kemakmuran, menjauhkan manusia dari kemungkaran sekaligus menempanya sehingga tidak terseret arus kejahatan.

Ketiga, etika tersebut menjamin kesehatan mental laki-laki dan wanita secara merata karena tidak membuka peluang sikap berlebih-lebihan, melanggar norma asusila atau memancing syahwat.
Selain itu, etika itupun tidak menimbulkan sikap pura-pura malu, tidak menimbulkan perasaan sensitif yang berlebihan terhadap lawan jenis, serta tidak menimbulkan seorang wanita menutup diri dari seorang laki-laki.

Sebaik-baik urusan adalah pertengahan. Ali ra mengatakan, “Hendaklah kalian mengambil model atau contoh yang pertengahan. Yang terlanjur hendaklah surut dan yang tertinggal hendaklah menyusul.”

Wallahu a’lam bis shawab

dikutip dari majalah Al Izzah No.15/Th.2, 31 Maret 2001
Selengkapnya...

Friday, June 26, 2009

Mengkafirkan Saudara Sesama Muslim

penulis asmaul chusna |

Jika anda adalah seorang yang berjilbab/memakai atribut muslim, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, membaca Al Qur'an. Pernahkan anda diberikan pertanyaan, "Kamu Muslim apa bukan??". Jika orang yang memberi pertanyaan adalah orang yang beragama lain atau orang yang tidak mengerti tentang Islam, pasti anda akan menjawab dengan mantap "YA" [insyaAllah]. Tetapi bagaimana jika yang memberikan pertanyaan adalah seorang teman atau sahabat atau bahkan orang yang anda anggap sebagai saudara se-aqidah?? Bagaimana jawaban anda??

Saya pernah mengalaminya, ini sangat diluar dugaan saya. Secara manusiawi, saya menangis, berontak... terus menerus menghujat... " Dasar!! emang mata kamu @%*#, nggak liat apa aku pake kerudung segini besar?? nggak liat apa aku sholat? dst..dst..." Yah, secara manusiawi memang begitu... Tapi begitu sudah memakai jilbab saat keluar rumah, ketika sholat... melakukan apapun... Saya langsung ingin menangis, bukan karena sakit hati karena di-CAP KAFIR- secara halus, tapi kembali bertanya pada hati yang paling dalam... Apakah aku masih menjadi muslimah hari ini??

Saya melihat fenomena mempertanyakan status kemusliman seudaranya sesama muslim ini semakin sering terjadi. Kasus yang terjadi pada saya, setelah saya konsultasikan pada beberapa orang ternyata telah dikategorikan sebagai pengkafiran sesama muslim. Lalu, bagaimana Islam mengatur ini. Hal mendasar yang perlu kita ketahui adalah selain ada penyimpangan dakwah dalam hal fikrah dan amal, ada juga penyimpangan lain berupa mengkafirkan, memfasikkan, atau memunafikkan muslim lain yang dianggap telah murtad.
Syaikh Mustafa Masyhur dalam kitabnya Thariqud Dakwah atau Jalan Dakwah menjelaskan tentang hal ini.
Sebelumnya, saya telah terangkan tentang penyelewengan di jalan dakwah yang bisa mendatangkan akibat-akibat berbahaya untuk dakwah dan pendukung-pendukungnya. Kita tambahkan lagi di sini bahwa penyelewengan fikrah adalah lebih berbahaya dari penyeleweng harakah. Hal ini karena di dalam fikrah yang sahih dan benar akan melahirkan harakah yang sahih dan dari situ dapat dibetulkan segala penyelewengan dan kesalahan harakah.

Jadi fikrah yang sehat melahirkan harakah yang sehat. Tetapi kalau fikrah telah menyeleweng, segala tindakan-tindakan harakah yang timbul tidak akan membawa kebaikan sedikit pun, malah membahayakan dan sia-sia.

Oleh itu, kita dapati di dalam tahap permulaan dakwah Islam, Rasulullah s.a.w. telah menyempurnakan peneguhan dan pemantapan akidah dan konsep yang sehat sejahtera lagi terang dan nyata tentang Islam dan risalahnya. Turunnya wahyu satu ayat demi satu ayat dan surah memantapkan dan mengukuhkan dasarnya, menerangkan, memperbetulkan dan menyampaikannya, dan Rasulullah s.a.w. sendiri menerangkan, menjelaskan dan bertindak dengan amalan yang benar dan sempurna dan menghapuskan segala penyelewengan amal.

Di atas jalan itu juga, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna berusaha dengan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menyatukan umat Islam di atas akidah yang sahih dan sempurna dan kefahaman yang mendalam. Beliau teliti dan sahih tentang Islam melalui al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. Beliau tidak lengah mengawasi penyelewengan fikrah yang bisa menimbulkan satu perpecahan dari berbagai perpecahan yang telah begitu banyak itu. Beliau membawa mereka kembali kepada sirah salafussoleh dengan kefahaman dan amalan mereka yang sejahtera untuk Islam di bawah naungan wahyu dan persahabatan dengan Rasulullah s.a.w.

Beliau menjadikan kefahaman itu sebagai rukun pertama dari rukun bai'ah, kerana sesungguhnya semua rukun bai' ah diasaskan di atasnya dan sangat kuat hubungannya dengan rukun-rukun tersebut.

Beliau telah menentukan baginya (kefahaman) dua puluh usul sebagai pagar yang mengelilingi dan memeliharanya dari segala penyelewengan, keterlaluan, kecuaian atau meringan-ringankan. Beliau jugalah yang menggariskan bahwa dakwah kita adalah salafiah, menurut jalan salafus saleh, para sahabat Nabi s.a.w dan pengikut-pengikutnya.

Satu lagi penyelewengan yang terpenting dalam fikrah yang wajar kita berikan perhatian ialah penyelewengan di dalam masalah kafir-mengkafir. Kita tidak suka menyentuh dan memanjangkan perbincangan dan berbantah-bantah dalil. Ini semua telah dijelas di dalam buku "Nahnu Duat La Qudhat" (Kita Pendakwah, Bukan Hakim) yang telah ditulis oleh Hassan Al-Hudhaibi rahmahullah.

Kita akan hanya menyentuh beberapa penjelasan dan keterangan dan mencoba menjelaskan bagaimana salah dan bahayanya penyelewengan seperti itu dan siapa yang menjadi mangsanya. Kita tidak akan menuduh niat-niat mereka, bahkan kita mengakui kebaikan niat mereka yang membawa fikrah yang menyeleweng itu.

7.1 Adakah Menghukum Orang Lain Itu Wajib bagi Setiap Muslim?

Telah diketahui bahwa syariat Islam telah memberi taklif, menuntut supaya kita menyeru manusia kepada Allah, menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari berbuat kemungkaran. Tiap-tiap seorang dari kita akan disoal di hadapan Allah: "Sudahkah kamu menyeru keluargamu, tetanggamu, kenalanmu dan semua orang yang berhubungan dengan kamu kepada Allah; untuk melaksanakan kitab Allah dan sunnah Rasulullah s.a.w. atau belum?" Kamu tidak akan disoal: "Sudahkah kamu menghukum ke atas si pulan atau belum? Kenapa kamu tidak menghukumnya?"

Karena itu tidak termasuk di dalam taklif syari'ah. Yang menjadi tugas kamu dan diberi pahala jika kamu melaksanakannya adalah tugas dakwah, menyeru manusia kepada Allah dan kamu akan diazab jika kamu mencuaikannya. Kamu tidak akan disiksa jika kamu tidak menghukum, sebaliknya jika kamu melakukannya, kamu akan terjatuh kepada azab yang sangat keras apabila kamu tersalah memberi hukuman.


Daulah Islam yang mendirikan dan mendaulatkan syari'at Allah. Dialah yang bertanggungjawab menentukan hal ihwal individu-individu di dalam akidahnya apakah dia kafir atau muslim. Setiap orang mempunyai cara muamalahnya. Bermuamalah dengan muslim tidak sama dengan bermuamalah dengan zimmi dan bermuamalah dengan zimmi tidak sama dengan murtad dan begitulah seterusnya.

Menentukan hukum kepada mereka bukanlah urusan individu, tetapi kadangkala di satu ketika seorang individu itu perlu mengetahui keadaan seseorang apabila dia ingin membuat suatu hubungan dengannya. Contohnya dalam urusan pernikahan, perniagaan atau urusan-urusan lain. Boleh jadi orang itu komunis (mulhid), athies ataupun murtad.

Jadi, dalam hal ini jika kamu merasa ragu-ragu tentang dirinya, cukuplah dengan menghentikan saja niat kamu, janganlah pula menjatuhkan hukuman ke atasnya.

7.2 Mengkafirkan Seorang Muslim Adalah Perkara Yang Sangat Berbahaya

Kita semua maklum tentang kehormatan seorang muslim: "Tiap-tiap Muslim terhadap Muslim haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". Sesungguhnya darah kamu, harta kamu dan kehormatan kamu haram atas kamu seperti haramnya hari kamu ini, di bulan kamu ini".

Oleh kerana itu kita dapati syari'at Islam melindungi kehormatan ini dengan perundangan yang bijaksana. Syari'at ini melindungi darahnya dengan perlaksanaan had Qisas, melindungi kehormatannya dengan had Qazaf dan had zina (orang yang menuduh berzina di hukum cambuk delapan puluh kali) dan melindungi hartanya dengan hukuman potong tangan yang mencurinya dan demikianlah seterusnya.

Oleh itu, menghukum orang dengan kufur atau mengkafirinya, padahal dia seorang muslim samalah artinya melecehkan kehormatan yang paling mulia. Menuduh seorang muslim sebagai seorang kafir lebih dahsyat dari membunuhnya. Oleh karena itu, balasannya sama dengan jenis kerjanya. Umpamanya jika menuduh seorang muslim sebagai seorang kafir tanpa bukti, maka menuduh itu menjadi kafir.

Imam Bukhari r.a. bahwa Abu Dzar mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Tidak boleh seorang lelaki menuduh lelaki yang lain sebagai fasik atau kufur karena tuduhan itu akan kembali semula kepadanya jika yang dituduh itu tidak sedemikian".

Darinya lagi, bahwa beliau mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa memanggil seorang lelaki dengan panggilan kafir atau mengatanya musuh Allah, sedangkan orang itu tidak sedemikian, maka tuduhan itu akan kembali kepadanya".-Muttafaq 'Alaih

Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata, telah bersabda Rasulullah s.a.w. "Apabila seseorang lelaki berkata kepada saudaranya: "hai kafir", maka kekufurannya itu jatuh kepada salah seorang daripada keduanya. Jika apa yang dikatakan itu benar, kafirlah orang dipanggil tapi kalau tidak, kekafiran itu kembali semula kepadanya."

Dari sini dapatlah kita melihat bahwa menghukum seseorang muslim itu sebagai orang kafir adalah satu tindakan yang membawa kepada kebinasaan tanpa pahala yang bisa diharap darinya dan ini bukan dari tugas-tugas syar'iah.

7.3 Manakah Yang Lebih Perlu Diawasi?

Beranikah kita mengatakan kepada seorang yang sakit, tidak mampu ataupun tidak berdaya lagi bergerak tetapi masih hidup, bahwa dia telah mati lalu dikebumikan sebelum kematiannya. Jika tidak ada perbedaan pendapat dan mempunyai keyakinan yang cukup tentang kematiannya barulah kita berani mengatakan bahwa dia telah mati.

Walaupun orang sakit yang tidak sadarkan diri beberapa hari tetap masih hidup, dia tidak boleh diperlakukan sebagai orang mati sebelum dia benar-benar mati. Perlakuan demikian dianggap sebagai dosa besar dan dipandang sebagai pembunuh walau bagaimana kuat pun penyakitnya.

Kalau kita harus berwaspada dan berhati-hati terhadap masalah tersebut terhadap fisik manusia, tentulah kita lebih perlu berwaspada dan berhati-hati menjatuhkan hukuman terhadap urusan akidah. Jadi bertindak melucutkan Islam dari seorang muslim dengan melemparkan tuduhan kafir kepadanya adalah lebih besar dosanya dan lebih besar bahayanya daripada menyatakan bahwa orang sakit telah mati padahal ia masih hidup. Jadi, mengapakah kita dengan mudah dan berani mengkafirkan berjuta-juta muslim.

Kita tidak menyangkal bahwa memang ada dari kalangan muslim yang hidup bersama kita, jika diperiksa dengan teliti dan halus, kita akan dapati dia telah murtad dan telah keluar dari Islam secara langsung. Tetapi, kita hendaklah memandangnya secara zahir dan zatnya saja. Jadi kita memandangnya sebagai muslim kecuali yang telah tampak kekufurannya dan murtadnya secara Qat'i dan pasti menurut ketentuan syar'i.

Tidak boleh juga kita tawaqquf lalu kita tidak memandang seorang sebagai muslim atau sebagai kafir. Ini tidak logik dan tidak berpijak di alam nyata. Demikian juga kita tidak boleh membiarkan orang yang sakit supaya dia terus sakit. Sebaliknya, kita mestilah mengobatinya jauh sekali untuk mengurusnya sebagai orang yang mati lalu mengebumikannya. Sebab asalnya dia seorang yang hidup sehingga jelas kematiannya. Demikian juga seluruh saudara selslam kita. Mereka dianggap muslim sehingga jelas kekufurannya, baru dipandang sebagai orang kafir.

7.4 Batas Pemisah Antara Kufur dan Islam

Allah tidak menjadikan batas pemisah di antara kufur dan Islam sebagai satu marhalah yang mesti dilalui, karena ini akan menimbulkan salah dalam pertimbangan apabila seseorang melintasi marhalah itu, baik seluruhnya atau sebagiannya yang kemudiannya timbul perselisihan, baik menganggapnya sebagai seorang muslim atau orang kafir, lalu menimbulkan beberapa perkara yang sangat bahaya.

Oleh karena itu, dengan hikmah Allah Taala dan kasih sayangNya kepada kita, Dia menjadikan batas pemisah di antara kufur dan Islam sebagai satu garis yang halus, jelas dan tidak ada perselisihan di atasnya supaya kita tidak terjerumus di dalam konflik yang paling melelahkan yaitu, dengan mengucap dua kalimah syahadah saja orang itu adalah dikatakan sebagai seorang muslim.

Demikian juga Dia menjadikan urusan keluar atau murtad dari Islam tidak akan terjadi jika tidak disertai dengan dalil qat'ie dan pasti yang jelas kekufurannya. Dengan memberi peluang kepada si murtad itu untuk bertaubat sebelum menjatuhkan hukuman had ar-riddah kepadanya.

Islam tidak menyuruh kita mengadakan ujian kepada siapa pun yang hendak memasuki Islam. Lalu kita berselisih dalam menentukan ujian kepada siapa yang hendak memasuki Islam. Kemudian kita berselisih dalam menentukan peringkat kelslamannya dan menetapkan berjaya atau gagalnya dia dalam ujian tersebut. Tapi kita hanyalah menurut sabda Rasulullah: "Serulah mereka supaya memberikan persaksian bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu Rasulullah", maka jika mereka mengucapkan demikian maka sesungguhnya darah dan harta mereka telah terpelihara".

Kita semua telah mengetahui kisah seorang Muslim yang berperang di dalam barisan musyrikin dan mengucapkan dua kalimah syahadah, kemudian dia dibunuh oleh Usamah bin Zaid r.a. setelah dia mengucap dua kalimah syahadah karena Usamah menyangkanya sebagai satu taktik untuk mengelakkan dirinya dari dibunuh, tetapi Rasulullah s.a.w. sangat marah dan kesal terhadap tindakan Usamah lalu bersabda kepadanya: "Kenapa engkau tidak membelah dadanya?" (sebagai istilah untuk memastikan bahwa hati orang tersebut memang benar-benar dusta)

Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang mengucap dua kalimah syahadah tidak boleh dipandang
sebagai seorang muslim kecuali dia beramal dan memenuhi tuntutan dua kalimah syahadah itu.

Itu adalah pendapat yang salah dan keliru. Orang yang mengucap dua kalimah syahadah telah menjadi Muslim, tetapi muslimnya apakah Muslim yang taat, Muslim yang durhaka, ataupun murtad. Itupun sekiranya dia mengingkari perkara yang pasti dimaklumi ataupun dia membuat sesuatu yang tidak dapat diberi pengertian kecuali kekufuran saja.

7.5 Memecahkan Objek Dakwah

Sesungguhnya Muslim yang kita pergauli dan dekati dan yang kita seru kepada Allah, kepada memahami Islam, supaya mereka melaksanakan ajaran Islam dan bekerja untuk Islam. Inilah yang menjadi sasaran dan objek dakwah yang kita bekerja di dalamnya.

Kita tarik daripadanya individu yang beriman yang terpengaruh dengan dakwah kemudian kita jadikan mereka pendukung-pendukung dakwah yang berjihad dan berkorban pada jalannya. Sekiranya mereka merasai bahwa kita menganggap mereka sebagai orang-orang kafir, mereka akan lari dari kita, tidak mau mendengar apa yang kita serukan kepada mereka, lalu menjadi musuh-musuh kita.

Dengan itu, kita sendirilah yang memecahkan objek dakwah kita dengan tangan-tangan kita dan kitalah yang tersingkir. Lantaran itu, kita berjalan di atas jalan mati. Kita telah mengasingkan diri kita dari mereka dan kita pada akhirnya tidak dapat merealisasikan satu pun kebaikan untuk Islam dan Muslimin.

Sesungguhnya musuh-musuh Allah telah menjajah negeri-negeri umat Islam di seluruh dunia dalam waktu yang lama. Mereka telah lama membuat berbagai rancangan untuk menjauhkan intisari Islam dan hakikatnya dari kehidupan umat Islam setelah mereka gagal memisahkan umat Islam dari agama mereka. Lantaran itu timbullah generasi-generasi yang jahil terhadap sebagian besar ajaran Islam. Islam tidak dapat dijelmakan dalam sebagian besar aspek kehidupan mereka.

Inilah yang mendorong dan mendesak kita agar melipat gandakan usaha dan kerja kita untuk menarik tangan-tangan mereka, menasihati mereka, memberi tunjuk ajar kepada mereka, membawa hidayah Islam kepada mereka dan membukakan mata mereka supaya mereka dapat melihat Islam sebagai satu cara hidup yang lengkap dan sempurna. Itu tidak cukup dengan fatwa mengkafirkan saja dan membangunkan tembok-tembok dan tabir-tabir di antara kita dengan mereka.

Musuh-musuh Allah senantiasa bercita-cita dan berusaha bersungguh-sungguh untuk memecah-belahkan barisan Muslim. Apakah lagi yang dikehendaki selain dari melihat umat Islam berpecah-belah. Dengan adanya kumpulan, partai, institusi dan organisasi yang mengkafirkan yang lain itulah yang memudahkan musuh-musuh Allah menghancurkan Islam dan sistemnya tanpa membawa faedah dan kebaikan kepada Islam.

7.6 JalanNya Yang Sahih

Apabila kita bersungguh-sungguh hendak merealisasikan satu kebaikan untuk Islam dan hendak menegakkan daulah Islam di muka bumi, kita mestilah berjalan mengikuti jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah s.a.w. di zaman silam yaitu dari segi imannya, amal, cinta dan ukhuwah tanpa sedikit pencairan dan perubahan, tanpa cuai dan keterlaluan sebagaimana firman Allah: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya)"'. Supaya Allah s.w.t. memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-AhZab: 23&24)

Firman Allah Taala:

"Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah s.w.t. dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah s.w.t. dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(Yusuf: 108)

Semoga Allah s.w.t. menjadikan kita pengikut-pengikut Rasulullah s.a.w. yang berjalan di atas jalan yang dicontohkannya tanpa merubah dan menggantikannya
sumber: http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/thariqud-dakwah/mengkafirkan-sesama-muslim.htm

Nah, begitulah... betapa Allah sangat menekankan betapa beratnya menjaga ukhuwah. Jangan sampai karena hanya rasa sakit hati terhadap seseorang saudara, maka lisan kita mengeluarkan kata " Kamu Muslim nggak sih??" dengan mudahnya. Tanpa tahu akibatnya di dunia dan di akhirat kelak.
Astaghfirullah.. Allohumma ya mushorrifal qulub,
shorrif qulubana alaa tho'athik, Yaa muqollibal qulub
tsabbit qolbi alaa dinik
Wallahu a'lam
Selengkapnya...

My Readers