Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts
Thursday, July 09, 2009

Akhwat Gaul*, Antara Kebebasan dan Keterbukaan

penulis asmaul chusna |

Bagaimana cara akhwat berinteraksi tanpa menimbulkan masalah? baca ini

Pengalaman seorang akhwat ketika masih SMA, waktu itu ada pertemuan antara pihak sekolah dengan pengurus mushollah. Pihak sekolah ingin bertemu dengan semua pengurus, laki-laki maupun wanita. Maka itulah kali pertama para akhwat menyebrangi hijab di Mushollah, yang membatasi ruang laki-laki dengan wanita. Berada dalam satu ruangan, dengan posisi berhadap-hadapan walau berjarak cukup jauh, itu situasi yang langka. Karuan saja rasa kikuk menyerbu saat itu. Para akhwt duduku kaku tertunduk, kalaupun bersuara hanya berbisik. Dan ketika pertemuan berakhir, rasanya baru bisa bernapas lega.

Pengalaman lain, ketika seorang akhwat sedang berjalan bersama akhwat yang lain, kebetulan berpapasan dengan dua orang ikhwan kakak kelas. Mungkin ada keperluan dengan memberi salam. Salam itu dijawab akhwatnya tapi sejurus kemudian yang terjadi adalah saling dorong, siapa yang mau bicara dengan ikhwan itu. Tak ada yang mengalah. Alhasil, akhwat berdua itu malah bergegas pergi sambil mencari-cari akhwat yang seangkatan dengan ikhwan tadi. Terlau…?!Tapi zaman sudah berubah, jangankan berada dalam satu ruangan dengan posisi berhadap-hadapan, makan bersama di satu meja pun, OK-OK saja. atau berada dalam satu mobil dan bercanda ria sepanjang perjalanan, itu sudah biasa. Bahkan, dalam forum yang seharusnya formal seperti rapat sekalipun, atmosfir saling ‘mencela’ dan bergurau antara ikhwan dan akhwat tidak sulit ditemui.Sempat terpikir, mungkin perubahan yang terjadi semata-mata bentuk penyesuaian dakwah yang semakin terbuka. Namun jika sekian fenomena menyuarak: ikhwan dan akhwat berlama-lama ngobrol di telepon (padahal yang membayar tagihan orang tua), ada yang memasang foto sesama aktifis kampus pujaannya di meja belajar, ikhwan dan akhwat sudah berani ‘jalan bareng’, padahal mereka tak tahu apa-apa tentang taqdirullah. Akhwat yang mengalami depresi berat karena ‘ditinggal’ menikah oleh seorang ikhwan, bahkan ikhwan dan akhwat berhubungan terlalu jauh sampai berzina… itu semua bukan kebetulan kan?!

Ilustrasi pertama dan kedua, sebetulnya sama-sama tak layak ditiru. Sikap yang terlalu kaku justru menghambat komunikasi. Namun gaya komunikasi yang terlalu cair tentu saja beresiko membuka celah kemaksiatan. Lalu tidakkah mungkin bahwa ternyata kedua ‘kekeliruan’ tadi seharusnya punya satu pokok masalah, yaitu pemahaman?

Terkadang kita terjebak dengan group value. Kita mengikuti suatu nilai, semata-mata karena nilai itulah yang dianggap berharga dalam kelompok. Boleh jadi karena menganut group value itulah, sehingga dulu ada budaya ikhwan-akhwat bicara dengan posisi saling membelakangi. Sampai-sampai ada seorang ikhwan yang terus menerus bicara, padahal lawan bicaranya sudah pergi entah kemana.
Dan kini, mungkin karena group value juga sehingga ada tren akhwat pulang malam. Awalnya karena kepentingan mendesak, tapi lama-lama muncul pameo: akhwat yang tidak pulang malam, jam terbangnya diragukan?! sungguh menyedihkan ketika ada seorang akhwat berujar, “Dulu di SMA saya jarang sekali bergurai dengan ikhwan, tapi setelah di kampus bertemu banyak ikhwan yang sering mengajak bergurau, saya jadi terbiasa….” Lho?!

Harus kita ingat bahwa tarbiyah bukan proses labelisasi. Tarbiyah tak bertujuan membuat kita menjadi produk-produk homogen yang monoton, jumud ataupun imma’ah (ikut-ikutan) . Melainkan diharapkan menjadi orang yang memiliki standar yang jelas dalam setiap sikap.

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 177, Allah mencela orang-orang musyrik yang menyandarkan nilai-nilai kebajikan (Al-Birr) pada persangkaan jahiliyah mereka. Sedangkan pada surat al Israa’ ayat 36, Allah SWT mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu jika tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Bicara tentang pergaulan aktifis islam, jelas aktifis muslimah memainkan peran penting di dalamnya. Melongok kiprah shahabiyah dalam berinteraksi dengan masyarakat, meraka bukan sosok steril yang tidak melakukan interaksi dengan kaum laki-laki.

Di antara mereka ada yang menyampaikan tuntutannya dengan Rasulullah, menjenguk muslim yang sakit, turut serta dalam perjamuan dan berbagai pertemuan, ikut berdinamika dalam berbagai peperangan, menyampaikan kritik secara langsung dan terbuka kepada khilafah, bahkan istri-istri Rasulullah menjadi tempat bertanya para shahabat setelah Rasulullah saw wafat.

Namun satu hal yang harus dicatat, bahwa para shohabiyah dan generasi muslimah terdahulu melakoni segala hak kebabasan mereka dengan pemahaman, penuh kehati-hatian, dan kontrol diri yang kuat.

Misalnya saja pada kisah dua orang puteri Nabi Syu’aib as. Mereka tidak menutup mata dari tugas memberi minum ternak, dalam rangka berbakti kpd orang tua. Mereka juga sadar, bahwa tugas itu harus mereka jalani dengan resiko harus berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahram. Maka dengan sabar mereka hadapi resiko itu dengan strategi menunggu giliran memberi minum sehingga mereka tak perlu bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dikisahkan seorang muslimah datang dan menyerahkan dirinya (agar dinikahi) kepada Rasulullah saw. Ia paham bahwa ia memiliki kebebasan menawarkan dirinya kepada muslim yang sholih.

Namun ketika ia melihat Rasulullah saw tidak memutuskan apa-apa mengenai dirinya, ia pun duduk dan bahkan membiarkan Rasulullah saw menikahkannya dengan laki-laki lain. Nyata sekali bahwa ia menyerahkan diri kepada Rasulullah saw semata-mata dalam rangka baktinya kepada beliau, bukan karena hawa nafsu. Betapa indah cara mereka membingkai dirinya dengan pemahaman.

Ketika seorang muslimah memahami kebebasannya, pada saat yang sama ia juga harus memahami keterbatasannya. Ia haru memahami bahwa dirinya mempunyai potensi fitnah yang besar. Kalau saja potensi itu sesuatu yang bisa diabaikan, tentunya Rasulullah tidak sampai bersabda, “Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah bagi kaum lelaki lebih berbahaya daripada perempuan” (Muttafaqun alaihi)

Seorang muslimah, terutama dalam usia belia, harus memahami bahwa pertemuannya dengan seorang laki-laki memiliki kemungkinan dimanipulasi oleh setan yang terkutuk. Dalam satu riwayat Ath-Thabrani dan Ali dikatakan Rasulullah saw bersabda “Aku melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sama sama masih muda belia. Aku khawatir keduanya akan dimasuki oleh setan”

Terkadang aktifis muslimah begitu cepat tsiqoh dan merasa save ketika berinteraksi dalam ruang lingkup organisasi Islam. Ia berpikir “Toh senior dan teman-teman saya adalah orang yang paham” Akibatnya ia tidak membangun imunitas yang cukup kokoh untuk melindunginya dari kemungkinan berzina. Padahal, setiap manusia memiliki kecenderungan berzina.

Dari Ibnu Abbas dikatakan: “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mirip dengan perbuatan dosa kecil dibandingkan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah mengenai Nabi saw, yaitu Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menentukan manusia cenderung berzina. Hal itu sama sekali tidak bisa dihindari dan pasti terjadi. Zina mata adalah memandang, zina lidah bertutur, zina nafsu adalah berharap-harap dan berkeinginan mendapatkan sesuatu, sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan hal tersebut.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Abdul Halim Abu Syuqqah dalam kitab Tahrirul Mar’ah fii ‘Ashrir Risalah mengemukakan bahwa Islam telah mengatur peran wanita dalam kehidupan sosial dengan etika yang sangat sempurna. Etika tersebut memiliki karakter sebagai berikut:

Pertama, etika tersebut tidak menghambat proses keseriusan hidup serta tetap mempertahankan akhlak dan harga diri manusia.

Kedua, etika tersebut menumbuhkembangkan kesejahteraan dan kemakmuran, menjauhkan manusia dari kemungkaran sekaligus menempanya sehingga tidak terseret arus kejahatan.

Ketiga, etika tersebut menjamin kesehatan mental laki-laki dan wanita secara merata karena tidak membuka peluang sikap berlebih-lebihan, melanggar norma asusila atau memancing syahwat.
Selain itu, etika itupun tidak menimbulkan sikap pura-pura malu, tidak menimbulkan perasaan sensitif yang berlebihan terhadap lawan jenis, serta tidak menimbulkan seorang wanita menutup diri dari seorang laki-laki.

Sebaik-baik urusan adalah pertengahan. Ali ra mengatakan, “Hendaklah kalian mengambil model atau contoh yang pertengahan. Yang terlanjur hendaklah surut dan yang tertinggal hendaklah menyusul.”

Wallahu a’lam bis shawab

dikutip dari majalah Al Izzah No.15/Th.2, 31 Maret 2001
Selengkapnya...

Saturday, June 20, 2009

BACA INI !!! sebelum menjadi suami atau istri

penulis asmaul chusna |



Beberapa waktu yang lalu, melalui percakapan dengan salah seorang sahabat aku belajar hal yang sangat penting. Dia bercerita tentang bagaimana criteria pasangan hidupnya. Sampailah percakapan kami pada betapa pentingnya fungsi istri dalam kehidupan rumah tangga. Fungsi istri tidaklah hanya untuk masak, macak, manak [qeqeqeq..maaf bosone rodok sangar sodara-sodara]. Oleh karena itulah, Rosulullah SAW bersabda kepada ummatnya untuk memilih istri maupun suami berdasarkan agamanya. Karena itulah yang akan menjaga keluarga kita dari api neraka.

Bagi seorang istri, dia harus benar-benar memahami fiqh thaharah dengan baik. Di tangan seorang istrilah, kesucian dari apa-apa yang akan dimakan, dan kesucian barang-barang digunakan keluarganya bergantung. Bagaimana dia menjaga makanan yang dia masak dari najis akan menentukan bagaimana anaknya nanti. Jika makanan yang dimakan keluarganya terjaga kesuciannya, maka keluarganya akan menjadi orang-orang yang sholeh dan mudah diarahkan pada kebaikan, InsyaAllah.

Sebagai contoh, sebelum dia memasak, dia harus memastikan perabotnya dalam keadaan suci dan bersih[ ingat, bersih bukan berarti suci. Kesucian perabot ditentukan pada bagaimana mencucinya!] Dia harus memastikan perabotnya tidak kena najis baik kecil, sedang ataupun berat. Bahkan dia harus memastikan bahan pembuatan perabotnya. Bukan dari emas, perak karena semuanya dilarang untuk digunakan dan menghindari perabot dari tembaga karena malaikat tidak menyukai baunya [lihat fiqh wanita hal 33]. Dia juga harus memastikan bahan masakannya suci dari najis dan memastikan proses memasaknnya tidak terkena najis.

Begitu pula saat mencuci baju, istri yang sholihah harus memastikan baju keluarganya suci ketika digunakan. Terutama baju yang akan digunakan untuk sholat. Jangan sampe mukena atau sarung suaminya tidak suci dalam mencucinya. Bagaimana mau khusyuk sholatnya jika bajunya nggak suci [temenq begitu serius mengatakan ini sampe aq merinding!!!].

Begitupun ketika merawat bayinya. jangan sampe najis dari pipis bayinya menular kemana-mana. Bagaimana dia membersihkan pipis bayinya, baju bayinya, menjaga kesucian tempat tidur bayinya sangatlah pnting. Jangan sampai tangannya yang terkena pipis bayinya dan belum disucikan memegang apa-apa yang suci karena akan mejadi ketularan najis [statemen ini semakin membuatkku merinding…mo jadi istri aja susah banget seh??]
Yah, bisa dikatakan istri adalah eksekutor kesucian atas apa yang ada dirumah, yang tidak diurus oleh suami.. Tapi menjadi suami juga tidak boleh sembarangan. Kehalalan harta yang akan dimakan oleh keluarga dirumah juga menjadi tanggungjawabnya. Harta yang dinafkahkan pada keluarga harus halal, terbebas dari riba, suap-menyuap, tidak didapat dengan cara yang dzalim dan bukan merupakan harta anak yatim. Karena jika harta yang dia nafkahkan bukan harta yang halal dan toyyib maka apa yang masuk ke dalam perut anak dan istrinya juga haram. Jika sudah begitu, apakah masih bisa mengharapkan anak dan istrinya menjadi orang yang sholeh dan sholehah???

Yaa Allah ampunilah kebodohan dan kekhilafan kami. Masukkanlah kami ke dalam golongan hambaMu yang senantisa Engkau tunjuki jalan yang lurus. Amiin….
Sesungguhnya Islam itu adalah agama pertengahan jadi jangan mempersulitnya dan jangan terlampau memudahkan amalannya. ^-^
Selengkapnya...

Saturday, June 13, 2009

KEMERDEKAAN MUSLIMAH

penulis asmaul chusna |


Beberapa waktu lalu, ada pengalaman menarik dan mungkin pengalaman itu adalah hal gila atau bahkan suatu bentuk pelanggaran berat yang kuputuskan untuk kulakukan. Meskipun ada sedikit penyesalan sesudah “pelanggaran” itu, aku merasa ada yang harus aku cari lebih-lebih-dan lebih dalam lagi. Dan akhirnya aku menemukan salah satu bab di buku Salim A Fillah Agar Bidadari Cemburu Padamu yang cukup meberikan gambaran dan pemikiran yang lebih jelas mengenai bagaimana dan dimana seorang muslimah mengaktualisasikan diri untuk mencari ridha Allah SWT.

Bang Salim menyebut aktivitas yang dilakukan oleh muslimah merupakan bentuk pemerdekaan diri. Islam merupakan agama yang tidak bias gender. Semuanya memiliki hak yang seimbang [mungkin kata2 ini lebih tepat dari pada hak yang sama ^-^] dan juga kewajiban yang sama. Bagaimana pula dengan pemerdekaan diri yang dimaksud Bang Salim? Baca aja buku ABCP ya hehehe… tetapi disini aku tuliskan lagi dari buku itu tentang bagaimana she sebenarnya kiprah para wanita salaf diberbagai lapangan kehidupan?

Dalam Pergaulan Masyarakat
  • Sebagai tokoh masyarakat yang menjadi pusat kunjungan orang-orang penting (HR Muslim)
  • Meminjamkan gaun (HR Al Bukhari)
  • Menghadiri walimatul Ursy (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Di acara penyambutan (HR Muslim)
  • Menyaksikan hiburan massal (HR AL Bukhari dan Muslim)
  • Menghadiri acara perjamuan (HR Muslim)
  • Taubat terbuka di hadapan hukum (HR Muslim)
Di Ranah Profesi
  • Meringankan pekerjaan suami (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Terkadang sebagai penanggung nafkah keluarga sementara (HR Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat)
  • Sebagai Dokter ( HR Al Bukhari)
  • Sebagai Penggembala (HR Muslim)Sebagai petani sukses (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Sebagai wirausahawati kerajinan (HR Muslim)
  • Sebagai pedagang eceran (riwayat Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz)
  • Sebagai bisniswomen internasional (HR Ibnu Ishaq)
  • Sebagai pejabat negara (riwayat Asy Syifa’ binti Abdullah al ’Adawiyah yang diangkat oleh Umar ibn Khattab sebagai kepala jawatan pengawas pasar)
Di Majlis Ilmu
  • Sebagai murid (HR Al Bukhari)
  • Sebagai guru (HR Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, sanadnya hasan menurut Ibnu Qahthan dan Al Albani menyepakatinya)
Di Medan Dakwah
  • Kisah Samra’ binti Nahik (HR At Thabari dalam Al Kabir XXIV:311/785 dengan sanad jayyid
Di Medan Jihad/Perang
  • Sebagai tenaga logistik dan medik (HR Muslim [1811-1812])
  • Sebagai infantri (HR Ahmad)
  • Sebagai marinir (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Olahraga, jaga kebugaran fisik
Di Ranah Politik
  • Sebagai diplomat (Riwayat rombongan kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah)
  • Aspirasi atas kelangsungan khilafah (HR Muslim)
  • Memperjuangkan persamaan hak di hadapan pemimpin (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Kritikus kebijakan publik yang dibuat oleh penguasa/pemerintah (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, At Tirmidzi, dan An Nasa’i)
  • Kritikus hal pribadi/akhlaq penguasa (HR Muslim)
  • Berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim (HR Muslim)
  • Memberikan suaka politik (HR Al Bukhari dan Muslim)
  • Orator (Riwayat Ummu Kultsum binti Ali ibn Abi Thalib pada tahun 61 H pasca Karbala)
Sungguh Rosulullah telah mendidik para wanita salaf dengan pemahaman yang lurus, tengah-tengah lagi mudah (Syaikh Al Albani dalam Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah). Sayyid Quthb berkata bahwa laki-laki dan perempuan adalah ciptaan Allah dan Allah tidak akan berbuat dzalim kepada siapapun dianara ciptaanNya. Allah membekali dan mempersiapkannya untuk tugas tertentu. Allah memberinya potensi-potensi yang diperlukan agar bisa menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Allahu a'lam bish showaab.
Selengkapnya...

Thursday, June 04, 2009

BAHAYA ROKOK !!!

penulis asmaul chusna |


Kebiasaan merokok pada awal abad ke20 sangat jarang di kalangan perempuan dan menjadi suatu hal yang lazim di kalangan perempuan setelah dilakukan laki laki. Pada tahun 2006, sekitar 20,2juta (17.8%) perempuan merokok di Amerika Serikat. Walaupun perempuan perokok lebih sedikit dibandingkan lakilaki, perbedaan persentasenya semakin menurun. Sekarang, dengan perbedaan jumlah yang semakin sedikit diantara perempuan perokok dengan laki laki perokok, perempuan menanggung beban berat penyakit yang bisa ditimbulkan akibat kebiasaan merokok ini.

Sekitar 80% kematian karena kanker paru-paru di kalangan perempuan di AS disebabkan oleh kebiasaan merokok. Pada tahun 1987, kanker paru-paru melampaui kanker payudara sebagai penyebab kematian karena kanker di kalangan perempuan di AS. Perempuan perokok berusia 35 tahun ke atas beresiko 12x lebih tinggi daripada perempuan nonperokok, akan meninggal akibat kanker paru-paru dan COPD. Tahun 2008, diperkirakan 71.030 perempuan akan meninggal akibat kanker paru-paru dan bronkus.

Merokok mengakibatkan lebih dari 90% kematian akibat Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)/Penyakit Paru Obstruktif Kronik-PPOK, atau emphysema dan bronchitis kronis setiap tahunnya. Pada tahun 2005, sekitar 52% kematian akibat COPD terjadi di kalangan perempuan. Ini adalah tahun ke-6 jumlah perempuan melampaui jumlah laki-laki yang meninggal akibat COPD.

Setiap tahun, kebiasaan merokok menjadi penyebab kematian sekitar 178.408 perempuan di AS. Perempuan perokok juga berisiko lebih tinggi terkena kanker mulut, faring, laring (kotak suara), esofagus, pankreas, ginjal, kandung kemih, dan leher rahim.

Perempuan perokok beresiko lebih tinggi 2x terkena penyakit jantung koroner.

Perempuan perokok yang sudah menopause memiliki kepadatan tulang lebih rendah daripada perempuan yang tidak pernah merokok. Perempuan perokok berisiko tinggi terkena patah tulang pinggul dibandingkan dengan perempuan nonperokok. Merokok juga dapat mengakibatkan kulit lebih cepat keriput sehingga penampilan perempuan perokok menjadi kurang menarik dan kelihatan lebih tua dari usianya.

Perempuan menjadi target utama pemasaran tembakau yang bertema menjadi seseorang yang disenangi, mandiri, dan berat badan yang terkontrol. Pesan tersebut gencar disampaikan dalam berbagai bentuk iklan dengan memakai model yang berbadan langsing, menarik, dan atletis.

Remaja perempuan merokok dengan alasan menghindari kelebihan berat badan dan menjadikannya sebagai identitas diri sebagai remaja yang mandiri dan menarik. Hal tersebut merupakan refleksi iklan tembakau. Kesan sosial dapat meyakinkan remaja bahwa kelebihan berat badan adalah lebih buruk daripada merokok. Iklan rokok juga menyebutkan bahwa rokok dapat menyebabkan badan lansing dan menekan nafsu makan.

Sejak tahun 1990 banyak remaja dan dewasa yang merokok selama masa kehamilan. Pada tahun 2005, 16.6% remaja perempuan berusia 15-19 tahun dan 18.6% perempuan berusia 20-24 tahun merokok selama masa kehamilan.

Pusat perawatan pasca kelahiran bagi ibu yang merokok di AS menghabiskan dana sekitar $366 juta per tahun, atau sekitar $740 untuk tiap orang ibu yang merokok.

Anak dari ibu yang merokok dapat terpapar nikotin melalui air susu ibu. Merokok tidak hanya dapat meneruskan nikotin kepada janin, tetapi juga mengurangi suplai oksigen yang melalui plasenta sebesar 25%. Merokok selama masa kehamilan juga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah hingga 20-30%, kelahiran sebelum waktunya hingga 14%, dan kematian bayi sekitar 10%.

Bayi juga rentan terkena selesma, bronkitis, dan penyakit pernapasan lainnya jika disekitarnya terdapat perokok. Ibu yang merokok juga dapat mengakibatkan bayi dan anaknya rentan terkena asma. Resiko terkena asma 2x lebih tinggi pada anak yang ibunya merokok lebih dari 10 batang rokok per harinya.

Mengurangi frekuensi merokok juga kurang bermanfaat bagi bayi. Seorang wanita hamil yang mengurangi jumlah rokok atau mengganti rokoknya dengan rokok yang rendah kadar nikotinnya mungkin akan menghirup atau menghisap lebih banyak rokok untuk mendapatkan kadar nikotin yang sama dengan sebelumnya.

Cara yang paling efektif untuk melindungi janin adalah dengan berhenti merokok. Perempuan yang merencanakan kehamilan harus mau untuk berhenti merokok.

Perempuan yang berhenti merokok dalam usia kehamilan 3-4 bulan pertama dapat menurunkan resiko bayinya lahir prematur atau menghindarkan bayinya terkena penyakit akibat rokok ini.
Perempuan yang berhenti merokok dapat mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat rokok dan kematian di usia muda.

Perempuan yang telah berhenti merokok dapat kambuh lagi karena banyak alasan. Stres, berat badan, dan emosi menjadi alasan bagi perempuan untuk kembali merokok.

Penelitian yang dilakukan pada perokok usia setengah tua dan mantan perokok yang menderita COPD dapat bernafas lebih mudah. Setelah satu tahun berhenti merokok, fungsi paru-paru pada perempuan 2x lebih bagus dibandingkan pada laki-laki yang berhenti merokok.
September 2008Dewi Anggoro W
Disusun dari berbagai sumber.
Untuk informasi selengkapnya tentang tembakau, dapat merujuk www.lungusa.org
Referensi:
http://www.cdc.gov/tobacco/data_statistics/fact_sheets/populations/women_tobacco.htm
sumber tulisan : www.sehatgroup.web.id
Selengkapnya...


Salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang perempuan adalah memasak meskipun dia berprofesi sebagai apapun, meskipun hanya sekedar memasak air atau menggoreng telur [ tapi kok yo kebacut nek cuman iso kuwi, lha suamine mosok lebih sering makan masakan orang lain??:-D]. Perempuan mulia seperti Aisyah ra., Fathimah Az Zahraa saja canggih menggiling gandum untuk bahan membuat roti. Iya sih sekarang jaman udah berubah, dunia sudah maju..gak perlu numbuk beras buat bikin nasi. Nah, karena jaman udah berubah menjadi mudah, memasak juga harus jago dong, apa lagi sekarang perlengkapan masak juga bermacam-macam en memudahkan kaum Hawa untuk itu. So, girls…sebagai calon-calon istri yang sholehah [amiin…] kita harus belajar masak untuk suami-suami kita dong…lumayan nambah pahala he3x.. nah gimana sih cara masak yang aman?? Tips ini ndak diambil dari buku manapun, jadi diikuti boleh, ndak juga boleh karena semata-mata diambil dari pengetahuan penulis yang sangat amat sangat terbatas. Ok,let’s start it…


TAHAP PERSIAPAN
Tahap ini dimulai dari persiapan koki untuk memasak yaitu mempersiapkan lokasi memasak, alat masak, bahan makanan dan feel dari koki itu sendiri [halah pake feel barang qeqeqeq…tapi ini penting lho…untuk mendapatkan rasa yang maknyuss dari masakan kita..] termasuk udah siap resep makanan di kepala si koki.
  • Lokasi memasak harus dipastikan sudah bersih dari kotoran dan aman untuk memasak [misalkan masaknya pake kayu yo harus dipastikan aman dari kebakaran hex] dan aman juga dari sumber-sumber najis.
  • Alat memasak juga dipastikan bersih, suci dan aman. Jangan sampe alat masak ini menjadi sumber ketidak-halal-an dan ketidak-thoyyib-an makanan kita. Untuk wadah-wadah harus dipastikan benar bahan pembuatannya dan proses mencucinya. Dan jangan lupa menyiapkan tempat tersendiri untuk sampah.
  • Bahan makanan yang digunakan harus halal dan thayyib. Oleh karena itu sebelum membeli harus diteliti dulu ingredient-nya, dan tanggal kedaluarsanya. Jangan sampe jadi korban bahan makanan aspal [ apalagi sekarang musim daging gelonggongan, abon babi, ayam yang tidak disembelih secara islam dsb]. Sebagai koki, kita harus carefull banget sama ini.
  • Feel dari koki ini maksudnya adalah mempersiapkan hati yang gembira saat memasak, mempersiapkan rencana resep memasak dan memperbaiki niat sebelum memasak. Jika benar niatnya, maka pahala dan senyum puas dari korban masakan kita akan di panen qeqeqeq…
TAHAP PROSES
Nah tahap ini yang mendebarkan. Tahap yang menentukan keberhasilan memasak kita. Hal yang harus diperhatikan hanyalah menjaga tingkat kepercayaan diri sebagai koki (halah:-D). Kalo udah tahu resepnya gampang…tinggal memperhatikan apakah proses ini mempengaruhi kandungan gizi makanan, kebersihan dan kehalalan makanan. Beberapa tips yang pernah kuterima selama belajar memasak pada orang tua, diantaranya:
  • Siapkan bahan masakan terlebih dahulu sebelum dimasuk-masukkan [maksudnya, siapkan bahan makanan yg sudah dipotong2 dan bumbunya sekalian agar tidak memperlama proses memasaknya diatas kompor
  • masukkan dulu bahan makanan yang memerlukan waktu lama misalnya daging, sayuran keras lalu kemudian bahan yang mudah matang. Dan tutup panci saat mematangkannya untuk mencegah kadar nutrisinya berkurang, dan jangan terlalu lama memasaknya karena bisa mengurangi nilai gizinya.
  • Mencuci sayuran sebelum dipotong kecil2 karena jika dicuci setelah dipotong kecil-kecil nutrisinya akan hilang terbawa aliran air.
  • Saat memasak hindari sumber-sumber najis dan pastikan air bekas cucian tidak nyiprat kemana-mana. Dan jangan memasak sambil nyuci perkakas dapur. Dari pada mencucinya mending pake tempat lain ato memakainya lagi tanpa mencucinya. Misalnya tempat sayuran yg dipotong-potong ndak papa dipake lagi karena pada dasarnya masih bersih dan suci.
  • Pastikan mencuci bahan makanan dengan air yg mengalir.
  • Hindari memasak dengan menggunakan microwave oven karena cukup riskan. Lebih jelasnya baca ini http://maemache.blogspot.com/2009/01/microwave-oven.html
  • Bagaimana dengan bahan makanan yang kejatuhan kotoran? Nah, Rosulullah SAW bersabda sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Abbas dri Maimunah dimana ia menceeritakan: “ bahwa Nabi SAW pernah ditanya tentang tikus yang jatuh dalam mentega. Lalu beliau menjawab: ambil bangkai itu serta mentega yang berada disekelilingnya, lalu buanglah dan makanlah mentega itu (sisa yang tidak terkena najis).
TAHAP PEMBERSIHAN
Tahap ini adalah tahap ketika masakan sudah selesai. Maka sebagai koki yang baik jangan langsung MANCING [mari masak langsung mlencing he3x] kita harus menyelesaikannya dengan membereskan pekerjaan tersebut dengan mencuci segala perabotan yang kita pakai, membersihkan sisa-sisa sampahnya. Karena seorang perempuan muslimah berkewajiban mencuci pisau, piring dan sebagainya yang dia pakai. Yaitu dengan cara yang dapat menghilangkan bekas najis, apabila benda-benda tersebut terkena najis. Selain alasan kebersihan, keindahan dan kesucian yang lebih penting adalah kesehatan kita. Ingat bahwa Sampah sisa memasak adalah sampah yang mudah sekali busuk karena seringkali tercampur air, dan mudah sekali mengendap. So…jangan biarkan dapurmu terlihat scary and disguisting

Ok, segini aja yah bagi-bagi tipsnya…kalo ada yang mo nambah tips aq tunggu…
Wallahu a’lam bisshowab… moga bermanfaat girls…


Selengkapnya...

My Readers