Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Wednesday, February 10, 2010

An-Najwa

penulis asmaul chusna |

Sayyid Quthb berkata menjelaskan ayat ini (an-Nisa;114):

Larangan melakukan najwa dalam al-Qur'an muncul berkali-kali. Najwa yaitu berkumpulnya suatu kelompok umat jauh dari jama'ah Islam atau dari kepemimpinan umat Islam untuk merancang suatu perkara secara rahasia. Padahal kebijakan tarbiyah islamiyah dan tanzhim Islami yang dilaksanakan pada masa Nabi Muhammad saw dalam menyelesaikan suatu masalah yang meragukan adalah dengan cara: Seorang Muslim datang kepada Nabi saw dengan membawa permasalahanya, jika permasalahan itu berupa urusan pribadi yang tidak ingin disebarluaskan dihadapan orang banyak maka ia menyampaikanya kepada Nabi saw secara tertutup. Jika menyangkut permasalahan orang banyak yang tidak menyangkut urusan pribadi orang tersebut, maka ia menyampaikannya kepada Nabi saw secara terbuka.


Hikmah dari tata cara seperti ini adalah agar tidak terdapat kantong-kantongdalam jama'ah Islam. Jika demikian, maka akan muncul beberapa kelompok yang memisahkan diri dengan konsep, pikiran, aliran, dan masalah mereka, atau suatu kelompok dari Jama'ah itu akan merancang suatu rencana "di malam hari",dan menentang Jama'ah dengan perkara yang telah ditetapkan sebelumnya, lalu mereka bersembunyi dari pantauan jama'ah, walaupun mereka tidak akan mampu bersembunyi dari mata 4wi, padahal 4wi bersama mereka ketika mereka merencanakan suatu perkataan yang tidak diridhai-nya secara rahasia(lihat surat an-Nisa;108).

Ayat 114 srat an-Nisa adalah salah satu ayat dimana 4wi melarang perbuatan najwa atau merencanakan sesuatu sedangkan mereka terpisah dari jama'ah Islam dan pemimpin mereka.

Masjid sejak awal Islam merupakan sebuah pusat komunikasi Jama'ah Muslim , didalamnya mreka berkumpul untuk shalat dan membicarakan masalah-masalah kehidupan. Masyarakat Muslim secara keseluruhan adalsebuah masyarakat yang terbuka. Mereka selalu mengetengahkan berbagai problematika mereka secara terbuka, selagi tidak menyangkut masalah yang berhubungan dengan rahasia-rahasia para panglimanya dalam pertempuran dan semisalnya atau bukan masalah yang menyangkut urusan pribadi seseorang dimana orang yang bersangkutan tidak ingin apabila masalahnya menjadi buah omongan orang.

Oleh karena itu, masyarakat yang terbuka ini merupakan masyarakat yang bersih dan menyejukan. Tidak akan menjauhi masyarakat ini untuk merancang suatu secara rahasia. kecuali orang-orang yang berkonspirasi terhadapnya, atau berkonspirasi terhadap salah satu prinsipnya, yang biasanya berasal dari kalangan munafiq. Oleh sebab itu, masalah najwa (Majelis Rahasia diluar jamaah) dalam alqur'an sering disebutkan bersama dengan kaum munafiq.

Fakta ini tentunya memberikan suatu pelajaran kepada kita, yaitu bahwa masyarakat muslim harus terbebas dari fenomena ini. Hendaknya semua individunya selalu menyampaikan kepada Jama'ahnya atu kepada para pemimpinya apabila terdapat hal-hal penting bagi mereka berupa rencana-rencana, strategi, kecendrungan pemikiran atau problematika.(Tafsir Fizhilalil Qur'an, 5:227)

Demikianlah seorang hamba yang mendapat taufiq bisa keluar dari sempitnya majlis najwa menuju medan syuro yang luas dan keindahan perbaikan ditengah manusia, demi mengharap ridha 4wi. 4wi adalah sumber cahaya langit dan bumi. 4wi akan mengaruniai cahaya yang baru agar mata hati mereka semakin terang dan agar termotivasi untuk bersegera menuju ridha 4wi, amien.

Ref.
Al-Awaiq (Muhammad ahmad ar-Rasyid-Seri Fiqh Dakwah)
Tafsir Fizhilalil Qur'an

Selengkapnya...

Thursday, November 05, 2009

IKHLAS

penulis asmaul chusna |

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus ” (QS. Al Bayyinah:5)


Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dalam Syarahnya menerangkan bahwa syarat sah diterimanya suatu amal perbuatan itu ada dua , yaitu ikhlas dan benar. Bagaimana makna ikhlas dan benar yang dimaksud dalam hal ini??

Ikhlas menurut beliau merupakan suatu perbuatan yang dimaksudkan mencari keridhaan Allah SWT, bukan yang lainnya. Sedangkan menurut Ibnu Rajab, Ibnu Qayyim dan al Ghazali, ikhlas dimaknai sebagai memurnikan tujuan bertaqarrub (mendekat) kepada Allah SWT, dan menjauhkannya dari hal-hal yang mengotori. Arti lainnya adalah menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan serta mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Allah, Sang Khalik. Sedangkan benar yang dimaksud disini adalah kesesuaian amal perbuatan itu dengan sunnah Rosulullah SAW yang shahih dan tidak melakukan amalan yang tidak dicontohkan oleh beliau SAW.

Allah SWT akan memberikan balasan pahala terhadap amal perbuatan berdasarkan pada apa yang diikuti oleh hati dengan rasa ikhlas dan niat yang tulus. Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan-harapan duniawi sedikit maupun banyak, maka tercemarlah kejernihan amalnya. Padahal manusia, kebanyakan mudah sekali terlena dalam harapan dan syahwat. Hampir tidak ada suatu amal ibadah yang bisa benar-benar bersih dari semuanya itu. Maka disinilah fungsi ikhlas, dimana dengan menghadirkan ikhlas, maka berarti kita berusaha membersihkan hati dari segala kotoran yang akan mengurangi nilai pahalanya sehingga tujuannya akan selalu kembali kepada Allah SWT. Dan sikap ini hanya bisa bisa datang dari seseorang yang mencintai Allah SWT dan menggantungkan seluruh harapannya di akhirat.

Sebagai contoh, kebiasaan makan dan minum kita tidak akan bernilai apa-apa jika dalam kita makan dan minum hanya terlintas pikiran agar kenyang dan hilang dahaga. Akan tetapi makan dan minum yang diiringi dengan niat lurus menguatkan jasad untuk beribadah pada Allah SWT, maka itulah nilai ikhlas ibadah yang sebenarnya yaitu senantiasa membersihkan dan mengarahkan hati kepada Allah SWT apapun amal ibadah yang kita lakukan.

Dari Abu Hurairah ‘Abdurrahman bin Sakhr ra. dia berkata, Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa kalian dan juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian” (HR. Muslim 2564/34)

Memperbaiki hati itu lebih utama untuk didahulukan daripada perbaikan anggota badan, sebab anggota badan hanyalah mengikuti perintah dan larangan hati. Oleh karena itu, jika hati itu baik maka akan baik seluruh tubuh dan jika hati telah rusak maka akan rusak pula seluruh badan. Sungguh, kita akan bertanggung jawab dan akan dihisab berdasarkan niat dan amalnya. Dan karena itu pula, kita benar-benar harus mengarahkan keduanya ke jalan yang baik dan lurus yaitu jalan petunjuk yang datang dari Allah dan jalan kebenaran yang berasal dari Rosulullah SAW dengan menghadirkan rasa cinta pada Allah dan akhirat.

Yang terberat dari ikhlas yang sesungguhnya menurut Salim A. Fillah adalah saat kita menyedari bahwa dia merupakan proses yang tidak kenal henti. Ikhlas dalam amal harus ada sebelum, saat, sesudah hingga kita memulainya amal perbuatan itu lagi. Sungguh berat memang, akan tetapi atas Kemurahan Allah SWT dan Keluasan rahmatNya, kita yang mudah sekali tergelincir ini diberikan kesempatan untuk memperbaiki hati, memperbaiki niat, mengganti motivasi ketika niat untuk bertaqarrub mulai bergeser. Inilah yang disebut Salim sebagai kesejukan bagi seorang mukmin ditengah ketersesatan yaitu ketika telah berangkat beramalpun kita bisa memperbaiki niat amal dan menata kembali keikhlasan.

Last but not least, ikhlas itu sangat sulit tetapi Allah SWT dan Rosulullah SAW telah memberikan kita kesempatan, kesejukan dan contoh mulia bagaimana agar kita tetap menikmati indahnya ikhlas, dan nikmatnya amal yang diterima Allah SWT. Dari sini, saya mengajak diri saya dan anda, para pembaca yang dirahmati Allah. Mari kita senantiasa memperbaiki niat setiap kita beraktifitas, karena kita tidak tahu kapan maut itu akan menjemput kita, dan bagaimana keadaan kita saat dia datang.

“ Dan (pada hari kiamat) jelaslah bagi mereka dari Allah apa-apa yang belum pernah mereka perkirakan. Dan jelaslah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Az Zumar: 47-48).
Wallahu a’lam

Dedicated for my beloved older brother, M. Edris al Farq
on his 28th birthday
^wish u all the best~barakallahu fiika ya akhi^

Silent Room,
Malang, 3th Nov 09

Maraji’ :
1. Al Qur’anulkariim, Penerbit Syamiil Cipta Media
2. Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin, terjemah Indonesia Jilid I. Syaikh Salim Ied al-Hilaly. Penerbit Pustaka Imam asy-Syaf’i
3. Tazkiyatun Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Ulama Salaf. Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, dan Al Ghazali. Penerbit Pustaka Arafah
4. Jalan Cinta Para Pejuang. Salim A. Fillah. Penerbit Pro-U Media

Selengkapnya...

Tuesday, October 27, 2009

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH

penulis asmaul chusna |

Berikut ini adalah kajian yang bulan dzulhijjah yang bisa anda baca dan amalkan. Artikel ini oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin. Selamat membaca^^

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.


Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

[3]. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.
“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [Al-Hajj : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. [Hadits Riwayat Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan : “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu” “Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [Al-Baqarah : 185].

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
[6]. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

[7]. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq 'Alaihi].

[8]. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain :
“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

[9]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[10]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang dibagiakn secara cuma-cuma, tanpa no, bulan dan tahun]
Courtesy of Almanhaj.or.id
Selengkapnya...

Friday, August 21, 2009

SERIAL PUASA: ADAB SAHUR

penulis asmaul chusna |

Nggak mau kan puasa anda berkurang barakahnya hanya gara-gara kita tidak menjaga adab-adabnya?? Berikut serial puasa yang membahas masalah sahur. Jangan hanya karena alasan ngantuk, anda tidak bersahur. Syaikh Salim bin Ied al Hilaaly, dalam eBook "Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam" menjelaskan adab dan keutamaan makan sahur dengan cukup jelas. Semoga bermanfaat ^.^

Hikmah Makan Sahur

Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana Ia telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Waktu dan hukum puasa bagi umat Islam tak ubahnya dengan apa yang diwajibkan kepada Ahlul Kitab, yakni tidak boleh makan dan minum dan berjima’ setelah tidur. Artinya, jika salah seorang dari mereka tidur, ia tidak boleh makan hingga malam selanjutnya. Ketentuan semacam ini juga berlaku bagi kaum Muslim.[1] Rasulullah Saw telah memerintahkan untuk makan sahur sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab.

Dari Amr bin ‘Ash ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur.”[2]

Keutamaan Makan Sahur

Di antara keutamaan makan sahur bagi seorang Muslim adalah sebagai berikut:

Pertama, makan sahur adalah keberkahan. Dari Salman ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

“Keberkahan itu ada pada tiga perkara: al-Jama’ah, ats-Tsarid dan makan Sahur.”[3]

Dari Abu Hurairah ra diceritakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada makan sahur dan takaran.”[4]

Dari Abdullah bin al-Harits dari seorang sahabat Rasulullah Saw diriwayatkan, dikisahkan, Aku masuk menemui Nabi Saw ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda:

“Sesungguhnya makan sahur adalah keberkahan yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan.”[5]

Keberadaan makan sahur sebagai sebuah keberkahan sangatlah jelas. Sebab, dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan puasa, dan memompa semangat untuk menambah puasa. Sebab, dengan makan sahur, puasa menjadi terasa lebih ringan bagi orang yang menjalankannya.

Dengan makan sahur juga, kita telah menyelisihi Ahlul Kitab. Sebab, mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah Saw menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana yang telah disebutkan di dalam dua hadits al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda ra:

“Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur.”[6]

Kedua, Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur. Barangkali, keberkahan sahur yang begitu melimpah tersebut disebabkan karena Allah SWT akan mencurahkan ampunanNya kepada orang-orang yang makan sahur, memenuhi mereka dengan rahmatNya, dan malaikat Allah akan memintakan ampunan bagi mereka, berdoa kepada Allah agar mema’afkan mereka supaya mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan dari siksa api neraka oleh Allah di bulan Ramadhan.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”

Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala besar yang berasal dari Rabb Yang Maha Pengasih. Adapun makan sahur yang paling utama adalah buah korma. Rasulullah Saw bersabda:

“Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.”[7]

Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk seteguk air; disebabkan begitu melimpahnya keutamaan makan sahur, dan juga karena sabda Rasulullah Saw, “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air.”

Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar. Pasalnya, Nabi Saw dan Zaid bin Tsabit ra melakukan sahur, dan ketika selesai sahur Nabi Saw bangkit untuk shalat subuh. Sedangkan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat Shubuh kira-kira sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk membaca lima puluh ayat di Kitabullah.

Anas ra meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra:

“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beliau sholat.” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “kira-kira 50 ayat membaca al-Qur’an.”[8]

Ketahuilah wahai hamba Allah, kita diperbolehkan makan, minum, jima’ selama dalam keadaan ragu, apakah fajar telah terbit atau belum. Di samping itu Allah serta RasulNya telah menerangkan batasan waktu puasa hingga jelas benar, bahwa waktunya telah masuk Shubuh. Oleh karena itu, Allah SWT memaafkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima’, selama belum ada kejelasan; sedangkan orang yang masih ragu belum mendapat kejelasan, sehingga ia boleh makan, minum, dan jima’. Sesunguhnya kejelasan adalah keyakinan yang tidak ada keraguan lagi.

Hukum Makan Sahur

Rasulullah Saw telah memerintahkan kaum Muslim untuk makan sahur. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya beliau bersabda:

“Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu.”[9]

Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda:

“Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah.”[10]

Beliau juga menjelaskan betapa tingginya nilai sahur bagi ummatnya; beliau bersabda:

“Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur.”

Di dalam hadits lain, Nabi Saw melarang meninggalkannya, beliau bersabda:

“Sahur adalah makanan yang barakah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan MalaikatNya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur.”[11]

Rasulullah Saw bersabda:

“Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air.”[12]
====================================================================
[1] Lihat sebagai tambahan tafsir-tafsir berikut: Zâdul Masir, jld. 1, hal. 184 oleh Ibn al-Jauzi, Tafsîr al-Qur’an al-‘Adhim, jld. 1, hal. 213-214 oleh Ibn Katsir, ad-Durul Mantsur, jld. 1, hal. 120-121 karya Imam as-Suyuthi.

[2] HR Muslim 1096.

[3] HR. ath-Thabrani dalam al-Kabîr 5127, Abu Nu’aim dalam Dzikr al-Akhbar ash-Shbahan 1/57 dari Salman al-Farisi al-Haitsami berkata al-Majma 3/151 dalam sanadnya ada Abu Abdullah al-Bashiri, adz-Dzahabi berkata: “Tidak dikenal, perawi lainnya tsiqat.” Hadits ini mempunyai syahid dalam riwayat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Khatib dalam Munadih Auhumul Sam’i Watafriq 1/203, sanadnya hasan.

[4] HR. asy-Syirazy (al-Alqzb) sebagaimana dalam Jami’ ash-Shagir 1715 dan al-Khatib dalam al-Muwaddih, jld. 1, hal. 263 dari Abu Hurairah dengan sanad yang lalu. Hadits ini hasan sebagai syawahid dan didukung oleh riwayat sebelumnya. Al-Manawi memutihkannya dalam Fawaid al-Qadir, jld. 2, hal. 223.

[5] HR. an-Nasâ’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya shahih.

[6] Adapun hadits al-Irbath diriwayatkan oleh Ahmad 4/126 dan Abû Dâwud 2/303; an-Nasâ’i 4/145 dari jalan Yunus bin Saif dari al-Harits bin Ziyad dari Abi Rahm dari al-Irbath. Al-Harits majhul (tidak diketahui). Sedangkan hadits Abu Darda diriwayatkan oleh Ibn Hibban 223, Mawarid dari jalan Amr bin al-Harits dari Abdullah bin Salam dari Risydin bin Sa’ad. Risydin dhaif. Hadits ini ada syahidnya dari hadits al-Migdam bin Ma’dikarib. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/133. an-Nasâ’i 4/146 sanadnya shahih.

[7] HR. Abû Dâwud 2/303; Ibn Hibban 223; al-Baihaqi 4/237 dari jalan Muhammad bin Musa dari Said al-Maqbari dari Abu Hurairah. Dan sanadnya shahih.

[8] HR. Bukhâri 4/118 dan Muslim 1097. Al-Hâfidz Ibn Hajar al-Asqalâni berkata dalam Fath al-Bârî, jld. 4, hal. 238: “Di antara kebiasaan Arab mengukur waktu dengan amalan mereka, (misal): kira-kira selama memeras kambing. Fawaqa naqah (waktu antara dua perasan), selama menyembelih onta. Sehingga Zaid pun memakai ukuran lamanya baca mushaf sebagai isyarat dari beliau ra bahwa waktu itu adalah waktu ibadah dan amalan mereka membaca dan mentadhabur al-Qur’an.” Sekian dengan sedikit perubahan.

[9] HR. Ibn Abi Syaibah 3/8; Ahmad 3/367; Abu Ya’la 3/438; al-Bazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir.

[10] HR. Bukhâri 4/120 dan Muslim 1095 dari Anas.

[11] HR. Ibn Abi Syaibah 2/8 dan Ahmad 3/12, 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said al-Khudri. Sebagaimana menguatan yang lain.

[12] HR. Abu Ya’la 3340 dari Anas, ada kelemahan, didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibn Hibban no.884 padanya ada ‘an-anah Qatadah. Hadits hasan.

Selengkapnya...

Nggak mau kan puasa anda berkurang barakahnya hanya gara-gara kita tidak menjaga adab-adabnya?? Berikut serial puasa yang membahas masalah berbuka puasa. Syaikh Salim bin Ied al Hilaaly, dalam eBook "Fikih Puasa Praktis: Berpuasa Seperti Rasulullah Shalalahu Alaihi Wasallam" menjelaskan adab dalam berbuka puasa dengan cukup jelas. Semoga bermanfaat ^.^


Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

“Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (Qs. al-Baqarah [2]: 187).

Rasulullah Saw menafsirkan ayat ini dengan arti, “datangnya malam dan perginya siang, serta tersembunyinya bundaran matahari”. Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang di-shahih-kan oleh al-Hâfidz Ibn Hajar[1] dan al-Haitsami[2] dari Amr bin Maimun al-Audi:

“Para sahabat Muhammad Saw adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur.”

a. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kita supaya menyegerakan berbuka puasa, ketika matahari telah terbenam.

Dari Sahl bin Sa’ad ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka.”[3]

Di dalam riwayat lain yang dituturkan dari Sahl bin Sa’ad ra, dinyatakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Ummatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).”[4]

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda:

“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.”[5]

b. Berbuka Sebelum Sholat Maghrib

Rasulullah Saw berbuka sebelum sholat Maghrib[6] karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. Dari Abu Darda’ ra:

“Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat.”[7]

c. Berbuka dengan Korma dan Air

Pada dasarnya, memberi asupan makanan manis pada tubuh, selepas berpuasa penuh, akan lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan. Bahkan makanan manis, misalnya korma, akan menguatkan tubuh dan mengembalikan kesegaran pada tubuh kita. Adapun air, sesungguhnya, ketika sedang menjalankan ibadah puasa, banyak sekali cairan tubuh yang lenyap (dehidrasi). Oleh karena itu, air sangat diperlukan untuk menormalisasi cairan tubuh; sehingga tubuh kita tidak terkena dehidrasi.

Ketahuilah wahai hamba yang taat, sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan —demikian pula air. Lebih dari itu, ia akan memberikan pengaruh yang baik dan mensucikan hati kita. Hal ini tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang mengikuti sunnah Rasulullah. Dari Anas bin Malik ra:

“Adalah Rasulullah Saw berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air.”[8]

d. Doa yang Diucapkan Ketika Berbuka

Doa yang paling afdhal adalah doa ma’tsur dari Rasulullah Saw. Nabi Saw jika berbuka mengucapkan:

“Dzahaba ad-dhâma’u wabtalati al-‘urûqu watsabbati al-ajru insyaAllah (Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah).”[9]

Ketahuilah, doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, berdoalah kepadaNya dengan doa-doa yang baik, mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat. Dari Abu Hurairah ra dituturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Tiga doa yang dikabulkan: doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terdhalimi dan doanya musafir.”[10]

Doa orang yang sedang berpuasa pasti tidak akan ditolak, alias dikabulkan oleh Allah SWT. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra; bahwasanya Nabi Saw bersabda:

“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil dan doanya orang yang didhalimi.”[11]

Dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, dituturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak akan ditolak.”[12]

e. Memberi Makan Orang yang Puasa

Siapa saja yang memberi makan kepada orang yang berpuasa niscaya akan mendapatkan pahala besar dan kebaikan yang banyak. Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”[13]

Orang yang sedang menjalankan puasa wajib memenuhi undangan (makan) saudaranya, dan orang yang diundang disunnahkan mendoakan pengundangnya setelah selesai makan dengan doa-doa dari Nabi Saw:

“ ‘Aftara ‘indakumus-sâ’imûna, wa ‘akala ta’âmakumul-‘abrâru, wa sallat ‘alaikumul-malâ’ikatu (Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat [mendoakan kebaikan] atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian).”[14]

“Allâhumma ‘atim man ‘at’amanî wasqi man saqânî (Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan berilah minum orang yang memberiku minum).”[15]
===================================================================
[1] Fath al-Bârî, jld. 4, hal. 199.

[2] Majma’ az-Zawaid, jld. 3, hal. 154

[3] HR. Bukhâri 4/173 dan Muslim 1093.

[4] HR. Ibn Hibban 891 dengan sanad shahih.

[5] HR. Abû Dâwud 2/305 dan Ibn Hibban 223, sanadnya hasan.

[6] HR. Ahmad 3/164 dan Abû Dâwud 2356, dari Anas dengan sanad hasan.

[7] HR. ath-Thabrani dalam al-Kabîr sebagaimana dalam al-Majma 2/105 dia berkata: “…marfu’ dan mauquf shahih adapaun yang marfu’ ada perawi yang tidak aku ketahui biografinya.” Syaikh Salim bin Id al-Hilali, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid menyatakan mauquf —sebagaimana telah jelas— mempunyai hukum marfu’ (lihat Sifat ash-Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fî Ramadhan).

[8] HR. Ahmad 3/163; Abû Dâwud 2/306; Ibn Khuzaimah 3/277-278; at-Tirmidzi 93/70 dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih.

[9] HR. Abû Dâwud 92/306, no. 2357; al-Baihaqi 4/239; al-Hâkim 1/422; Ibn Sunni 128; an-Nasâ’i 1/66 dan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, hal. 296; ad-Daruquthni 3/1401, no. 2247; dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah jld. 6, hal. 265. Semuanya diriwayatkan dari jalur Ali bin Hasan. Menurut al-Hâkim, haditsnya shahih dengan syarat Bukhâri dan Muslim, dan ad-Dzahabi menyepakatinya. Sedangkan ad-Daruquthni 2/185 berkata: “sanadnya hasan”. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin al-Albâni dalam kitab Irwâ al-Ghalîl, jld. 4, hal. 39, no. 920.

[10] HR. Uqaili dalam ad-Dhu’afa’ 1/72, Abu Muslim al-Kajji dalam Juz-nya, dan dari jalan Ibn Masi dalam Juzul Anshari sanadnya hasan kalau tidak ada ‘an-‘annah Yahya bin Abi Katsir, hadits ini punya syahid yaitu hadits selanjutnya.

[11] HR. at-Tirmidzi 2528; Ibn Mâjah 1752; Ibn Hibban 2407 ada jahalah Abu Mudillah.

[12] HR. Ibn Mâjah 1/557; al-Hâkim 1/422; Ibn Sunni 128; ath-Thayalisi 299 dari dua jalan al-Bushiri berkata: 2/81 ini sanad yang shahih, perawi-perawinya tsiqat.

[13] HR. Ahmad 4/144, 115, 116, 5/192; at-Tirmidzi 804; Ibn Mâjah 1746; Ibn Hibban 895, di-shahih-kan oleh Imam at-Tirmidzi.

[14] HR. Abi Syaibah 3/100; Ahmad 3/118; an-Nasâ’i dalam Amalul Yaum wal Lailah, hal. 268; Ibn Sunni 129; Abdur Razzaq 4/311 dari berbagai jalan darinya, sandnya shahih.

[15] HR. Muslim 2055 dari Miqdad.

Selengkapnya...

Wednesday, August 19, 2009

SERIAL PUASA: 33 Ketaatan dan Amalan Ibadah Ramadhan

penulis asmaul chusna |


Marhaban Ya Ramadhan... Marhaban Syahru Shiam.... Sudahkah anda merencanakan Ramadhan anda?? Segera rencanakan Ramadhan anda, jadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik anda. Raih keistimewaannya dengan berlomba-lomba beramal shalih. Berikut beberapa amalan Ramadhan yang bisa anda lakukan untuk mengisi Ansyithoh Ramadhan 1430 H


Ustadz Abdullah al Hadramy menyampaikan 33 amalan ketaatan dan amalan Ibadah Ramadhan yang bisa anda lakukan.
  1. Senantiasa berniat baik sejak dari bangun tidur hingga bangun tidur lagi.
  2. Menjaga sholat 5 waktu di masjid.
  3. Berdzikir setelah sholat shubuh dan setelah sholat ashar dengan dzikir yang disunnahkan.
  4. Senantiasa mengisi waktu dengan tilawah Al Qur'an.
  5. Sholat tarawih berjama'ah di masjid.
  6. Menyibukkan diri dengan berbagai macam dzikir dan memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad SAW.
  7. Menjaga sholat-sholat sunnah, seperti Rawatib, witir, tahajjud, dhuha, dll.
  8. Berusaha merubah kebiasaan diri dengan niat ibadah, seperti tidur, makan, bersih-besih dan aktifitas harian lain yang awalnya dianggap biasa menjadi kebiasaan yang diniatkan ibadah.
  9. Senantiasa memperbanyak dzikir dengan memperbanyak doa setiap memulai dan mengakhiri aktifitas sehari-hari.
  10. Memanfaatkan kesempatan baik yang ada untuk berbuat baik kepada orang lain maupun diri sendiri.
  11. Memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa.
  12. Senantiasa bermuhasabah/instropeksi diri.
  13. Berupaya untuk bergau dengan orang-orang sholih.
  14. Berusaha membantu dan bermanfaat untuk orang lain.
  15. Mengoptimalkan beberapa ibadah dalam satu waktu. Misalnya hendak sholat di masjid, maka dalam perjalanan niatkan juga berjalan untuk ibadah, menyingkirkan halangan dijalan untuk ibadah dst.
  16. Menginginkan kebaikan untuk orang lain dengan saling nasehat menasehati, saling mengingatkan, berdakwah.
  17. Memperbanyak puasa di waktu-waktu yang mustajab, karena doa orang yang berpuasa adalah salah satu doa yang dikabulkan Allah.
  18. Berniat untukmendapatkan ridho Allah saat melakukan ibadah. Senantiasa berprasangka bahwa Allah telah memberikan kita kebaikan saat kita beribadah.
  19. Senantiasa menjaga wudhu.
  20. Menjaga lisan dari hal-hal yang sia-sia.
  21. Membaca do'a saat berbuka puasa dengan do'a yang diajarkan oleh Rosulullah.
  22. Menyegerakan berbuka puasa.
  23. Berusaha berbuka puasa sesuai dengan tuntunan Rosulullah.
  24. Bersahur dan mengakhirkan sahur.
  25. Berusaha memberi makan kepada orang lapar dengan niat hadiah dan shodaqoh.
  26. Tidak menyia-nyiakan 4 waktu istimewa, yaitu sebelum shubuh hingga shubuh, semenjak shubuh hingga terbit matahari, setelah ashar- matahari terbenam, dan antara waktu maghrib hingga isya'.
  27. Memperbanyak shodaqoh.
  28. Berusaha is'tikaf di masjid dan menghadiri majils-majlis ilmunya.
  29. Banyak membaca kitab-kitab yang melembutkan hati, menyucikan jiwa dan tuntunan amal sholih.
  30. Mendengarkan kajian-kajian tentang amalan yang melembutkan hati, menyucikan jiwa dan tuntunan amal sholih.
  31. Memaksimalkan ibadah di waktu adzan dan iqomah.
  32. Senantiasa mengingat kampung akhirat, kematian dan siksa Allah.
  33. Bersyukur pada Allah karena telah dipertemukan dengan Ramadhan, bersyukur saat berbuka puasa, dan bersyukur saat menyelesaikan ibadhan bulan Ramadhan.
Mari kita sempurnakan puasa Ramadhan kita dengan ketaqwaan dan penyucian diri. Semoga puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus, tetapi puasa kita dicatat sebagai amal istimewa yang hanya Allah saja yang mengetahui pahalanya. Amin...^.^

Selengkapnya...

My Readers